Artikel

LAHAN BASAH BUKAN ISU JAUH: PENJAGA AIR, PANGAN, DAN MITIGASI BENCANA DI SEKITAR KITA

Banjir dan longsor sering disebut sebagai “bencana alam”. Padahal, banyak risikonya bisa dipetakan dan dikendalikan jauh sebelum bencana itu terjadi. Salah satu kuncinya ada pada sesuatu yang kerap luput dari perhatian: lahan basah.

Lahan basah—seperti rawa, sungai, dan kawasan resapan air—bukan hanya bentang alam yang terlihat jauh dari aktivitas sehari-hari. Ia bekerja diam-diam menjaga kualitas air yang kita gunakan, mendukung ketahanan pangan, sekaligus meredam risiko bencana di sekitar kita.

Peran Lahan Basah dalam Kehidupan Sehari-hari

Tanpa disadari, lahan basah berfungsi sebagai sistem alami yang:

  • Menyimpan dan mengatur ketersediaan air,
  • Menyaring pencemaran sebelum air digunakan masyarakat,
  • Menopang ekosistem pertanian dan perikanan,
  • Mengurangi risiko banjir dan kekeringan.

Ketika fungsi ini terganggu—akibat alih fungsi lahan, pembangunan tanpa kajian, atau pengelolaan yang tidak berbasis data—dampaknya terasa langsung. Kualitas air menurun, risiko banjir meningkat, dan ketahanan lingkungan menjadi rapuh.

Bencana Bukan Selalu Tak Terduga

Banyak kejadian lingkungan sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Risiko dapat dikenali lebih awal jika lingkungan dipetakan secara sistematis. Inilah mengapa pendekatan berbasis kajian dan evaluasi lingkungan menjadi penting, bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai alat mitigasi.

Audit lingkungan, kajian daerah aliran sungai (DAS), serta evaluasi dokumen lingkungan membantu mengidentifikasi potensi masalah sebelum berubah menjadi krisis. Dengan data yang tepat, keputusan dapat diambil secara lebih terukur—baik oleh pemerintah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan lainnya.

Peran Pendekatan Independen dan Berbasis Data

Dalam konteks ini, peran pihak independen menjadi krusial untuk memastikan kajian dilakukan secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Melalui layanan audit lingkungan, kajian DAS, serta evaluasi dan pendampingan dokumen lingkungan, SUCOFINDO mendukung upaya pengelolaan lingkungan yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Pendekatan ini tidak hanya membantu memenuhi regulasi, tetapi juga memberikan gambaran risiko yang nyata—sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sejak dini.

Menjaga Lahan Basah, Menjaga Masa Depan

Melindungi lahan basah bukan sekadar isu lingkungan, tetapi bagian dari menjaga kualitas hidup. Air yang lebih aman, pangan yang lebih terjaga, dan risiko bencana yang lebih terkendali berawal dari sistem lingkungan yang dikelola dengan baik.

Karena mitigasi bencana tidak selalu dimulai saat bencana terjadi—tetapi jauh sebelumnya, dari pemahaman dan pengelolaan lingkungan yang tepat.

SUCOFINDO: Mitra Independen dalam Mitigasi Risiko Lingkungan

Sebagai penyedia layanan Testing, Inspection, and Certification (TIC), SUCOFINDO mendukung upaya mitigasi bencana melalui:

  • Audit lingkungan berbasis standar
    Audit lingkungan membantu memetakan potensi risiko lingkungan secara sistematis sebelum berdampak pada masyarakat.
  • Kajian & Audit Daerah Aliran Sungai (DAS)
    Kajian DAS membantu memahami hubungan antara penggunaan lahan, aliran air, dan risiko bencana.
  • AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
    Kajian AMDAL memastikan rencana kegiatan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan sejak awal. 
  • Evaluasi Dokumen Lingkungan (UKL-UPL / RKL-RPL)
    Evaluasi dokumen lingkungan memastikan rencana pengelolaan benar-benar diterapkan di lapangan.

Artikel Lainnya

Suka dengan apa yang Anda baca?
Bagikan berita ini:

Berita Terkait