ArtikelPengujian

Kenali 7 Jenis dan Cara Uji Metode Destructive Test

Mengenal Jenis dan Cara Uji Destructive Test

Destructive test (uji destruktif) dan non-destructive test (uji non destruktif) yang biasa disingkat dengan istilah DT dan NDT adalah dua metode dan pendekatan yang berbeda dalam menguji suatu material atau komponen.

Kedua metode ini memiliki peran penting dalam industri, baik untuk memahami karakteristik material, memvalidasi proses produksi, maupun mendeteksi potensi kegagalan suatu komponen. Karena itu, penting untuk mengeksplorasi perbedaan antara kedua metode ini. Sebelumnya mengenal metode advanced NDT testing dan jenismya, kali ini mari membahas jenis Destructive Test. 

Apa itu Destructive Test?

Sesuai namanya, uji destruktif atau DT adalah metode pengujian yang bersifat merusak (destruktif). Ini melibatkan penghancuran atau perusakan pada material atau komponen yang diuji untuk memahami pengaruhnya di bawah tekanan atau kondisi tertentu.

Tujuan utama dari uji destruktif adalah untuk mengungkapkan batas kinerja material, seperti kekuatan, kekerasan, keuletan, dan berbagai sifat fisik lainnya. Proses ini sering kali melibatkan pengujian berulang kali sampai material tersebut mengalami kerusakan. Metode ini jelas memiliki perbedaan antara destructive test dan non-destructive test.

Jenis dan Cara Uji Destructive Test

Ada banyak sekali jenis pengujian destruktif yang umum digunakan dalam menguji material dan komponen. Berikut beberapa jenis DT yang paling umum dilakukan beserta penjelasan tentang cara ujinya: Namun, sebe,lum itu kenali juga jenis-jenis NDT testing dalam mengevaluasi suatu material

1. Uji Tarik (Tensile Testing)

Pengujian tarik adalah salah satu jenis uji destruktif yang bertujuan untuk mengukur seberapa kuat material saat ditarik. Prosesnya melibatkan pemberian beban gaya tarik pada sampel material yang diujikan.

Beban tersebut diterapkan secara bertahap hingga sampel mengalami kegagalan atau putus. Selama pengujian, kekuatan tarik maksimum, perpanjangan material, dan modulus elastisitas dapat diukur.

Pengujian ini digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan, keuletan, dan sifat mekanis lainnya dari material, seperti logam, plastik, dan komposit. Hasilnya kemudian dimanfaatkan dalam proses perancangan produk dan pemilihan material yang tepat.

2. Uji Tekan (Compressive Testing)

Uji tekan adalah jenis Detructive Test yang dilakukan untuk mengukur seberapa kuat material saat ditekan. Pada pengujian ini, material diuji ditempatkan di bawah tekanan yang terus meningkat hingga material mengalami kegagalan atau patah.

Pengujian tekan dapat membantu mengidentifikasi kekuatan tekan maksimum dan modulus kompresi material. Adapun manfaat penggunaannya adalah untuk mengevaluasi kekuatan material saat digunakan dalam aplikasi yang mengalami tekanan, seperti bahan konstruksi dan komponen mesin.

3. Uji Bengkok (Bending Testing)

Bending test mengacu pada jenis uji destruktif yang bertujuan untuk mengevaluasi daya tahan material terhadap beban yang menghasilkan lenturan atau tekukan. Pada proses uji ini, sampel material ditempatkan di atas dua dukungan dengan satu titik tengah.

Kemudian, beban diterapkan pada tengah sampel untuk membengkokkannya. Kemudian, pengukuran dilakukan untuk menentukan beban maksimum yang dapat ditahan sebelum sampel mengalami kegagalan.

Uji bengkok sangat penting dalam menguji material yang akan digunakan dalam aplikasi yang melibatkan lenturan atau tekukan, seperti material struktural dan komponen logam.

4. Uji Kekerasan (Hardness Testing)

Uji kekerasan adalah metode destructive test untuk menentukan tingkat kekerasan suatu material, yang mengacu pada resistensi material terhadap penetrasi atau deformasi. Terdapat berbagai cara atau metode untuk menguji kekerasan, tetapi salah satu yang paling umum adalah uji Brinell.

Pada uji Brinell, sebuah bola baja ditekan ke permukaan material dengan beban yang telah ditentukan. Diameter bekas penekanan diukur, dan kekerasan material dihitung berdasarkan diameter bekas.

Pengujian ini digunakan untuk mengevaluasi sifat mekanis material dan memastikan bahwa material tersebut sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan dalam berbagai aplikasi, termasuk peralatan industri dan komponen mesin.

5. Uji Kegagalan (Fracture Testing)

Pengujian kegagalan adalah metode untuk memahami bagaimana material mengalami kegagalan atau retakan. Prosesnya menggunakan sampel material yang dikenakan beban hingga terjadi kegagalan.

Jenis kegagalan dan pola retakannya kemudian diidentifikasi dan dianalisis untuk memahami sifat material yang berkaitan dengan kegagalan. Uji ini membantu dalam memahami potensi kegagalan material dan mengembangkan metode perbaikan atau penguatan yang sesuai.

6. Uji Fatik (Fatigue Testing)

Ini merupakan metode untuk mengukur daya tahan material terhadap tegangan berulang atau beban siklik. Proses uji ini melibatkan pemberian beban siklik pada sampel material untuk menguji seberapa baik material tersebut bertahan dalam kondisi beban berulang.

Pengujian ini penting dalam aplikasi yang melibatkan perubahan beban secara berkala, seperti komponen mesin. Dengan uji fatik, Anda bisa mengevaluasi umur pakai suatu material dan mengidentifikasi potensi kegagalannya akibat beban siklik.

7. Uji Residual Stress (Residual Stress Testing)

Kemudian, ada pengujian residual stress yang digunakan untuk mengukur tegangan yang tersisa dalam material setelah semua beban eksternal telah dihilangkan. Untuk mengukur tingkat stress (tekanan) residu dalam material, digunakan metode uji seperti difraksi sinar X (X-Ray).

Pengujian residual tegangan berguna dalam menganalisis dan memahami kondisi tegangan dalam material, yang dapat mempengaruhi kinerja dan keamanan komponen.

Selain destructive test, uji non destruktif adalah opsi pendekatan lain yang umum digunakan. Sucofindo menyediakan berbagai layanan uji dan analisis untuk berbagai bidang industri, termasuk layanan uji tanpa rusak NDT. Hubungi kami untuk informasi selengkapnya! Temukan beragam informasi lainya di halaman artikel kami!

Suka dengan apa yang Anda baca?
Bagikan berita ini: