Industry 4.0 Dorong Terjadinya Revolusi Sektor Industri dan Jasa

Minggu, 05 Juli 2020 | 03:29


Covid-19 masih ‘menghantui’ beberapa negara. Penyebarannya yang begitu cepat dan tanpa pandang bulu mengakibatkannya menjadi pandemi global. Selain itu, ‘keunggulan’ virus ini yang dapat menyebar di antara orang-orang tanpa perantara khusus membuat penanganannya menjadi lebih sulit.

Namun, lambat laun dokter dan ilmuwan sudah memahami cara cepat menahan laju penyebaran, yakni social distancing. Cara ini merupakan tindakan memperlebar jarak fisik antar orang. Saat ini, jarak satu meter antar orang menjadi acuan aman untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19.

Tidak bisa dipungkiri, wabah ini mengevolusi beberapa cara kerja yang sudah biasa. Banyak perusahaan dipaksa untuk meninggalkan cara kerja tradisional dan memunculkan cara bekerja yang tidak biasa.

Dengan adanya wabah, perusahaan akan bekerja dengan minimal pertemuan fisik. Bukan hal yang aneh apabila kondisi tersebut akan diteruskan meskipun wabah sudah selesai.

Perusahaan menjadi terbiasa bahwa tidak selamanya karyawan harus bekerja di kantor. Sampai pada akhirnya perusahaan akan menyadari bahwa yang sesungguhnya dibutuhkan adalah fungsi dari seorang karyawan. Kehadiran fisik seorang karyawan menjadi tidak utama.

Yang akan terjadi selanjutnya adalah perusahaan akan memposisikan karyawan di backstage ataupun menjadi supporting processFront stage akan didominasi dengan teknologi (aplikasi, mesin pintar). Karyawan bertugas menyematkan misi yang harus diselesaikan oleh teknologi itu.

Beberapa tahun lagi, ketika teknologi sudah semakin pintar dan mampu bertindak layaknya manusia, peran karyawan tidak lebih dari supporting process. Manusia hanya dibutuhkan apabila teknologi tidak mampu menangani suatu kondisi. Inilah masa dimana perusahaan memasuki revolusi industri era baru, era Industry 4.0.

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Making Indonesia 4.0 pada 4 April 2018 untuk mendorong peningkatan daya saing industri nasional. Bahkan, pemerintah telah menetapkan sasaran strategis lima sektor prioritas dari Program Making Indonesia 4.0 sampai dengan tahun 2030.

Kelima sektor prioritas itu adalah tekstil dan pakaian untuk menuju produsen function clothing terkemuka, kemudian prioritas sektor makan dan minuman untuk membangun industri Food & Beverage powerhouse di ASEAN.

Sektor prioritas lainnya adalah kimia guna menjadi pemain terkemuka di industri biokimia dan sektor otomotif untuk menjadi pemain terkemuka dalam ekspor ICE dan EV. Prioritas lainnya adalah sektor elektronika, guna mengembangkan kemampuan pelaku industri domestik.

Kehadiran fisik pelanggan tidak lagi menjadi keharusan karena kegiatan perdagangan dapat berlangsung di dalam teknologi. Keberadaan karyawan di lini depan perusahaan, seperti resepsionis, front officesales, kasir, dapat menjadi minimal.

Intervensi manusia digantikan dengan hubungan antar aplikasi dan proses logis teknologi antara supplier dan producer. Jadi, peran karyawan yang tersisa adalah memperbaiki dan mengembangkan proses yang harus diikuti oleh teknologi.

Industry 4.0 mendorong terjadinya revolusi di sektor industri dan sektor jasa lainnya. Implementasi otomatisasi, konektivitas, data analytics, augmented reality dan sebagainya, serta pemanfaatan Smart Product/Devices (output dari Industry 4.0) dapat mengubah secara radikal model bisnis dan proses bisnis dari sektor industri dan jasa lainnya.

Setiap perusahaan industri dihadapkan pada tantangan untuk dapat bertransformasi secara berkesinambungan dalam memasuki era Industry 4.0, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi yang kian dinamis serta persaingan global yang semakin meningkat.

Sucofindo bekerja sama dengan beberapa Perguruan Tinggi terkemuka di Indonesia telah mengembangkan suatu framework yang dapat membantu perusahaan dalam menjalankan transformasi bisnis atau digital menuju Industry 4.0 yang didasarkan atas pengalaman penerapannya di beberapa perusahaan dalam negeri.

Berikut jasa konsultasi transformasi bisnis atau digital perusahaan dalam menuju Industry 4.0, yakni jasa Asesmen dan Evaluasi untuk peningkatan pemahaman perusahaan akan konsep Industry 4.0 dan penentuan baseline kondisi perusahaan terhadap platform Industry 4.0 kedepan.

Jasa lainnya adalah Arah Strategis dan Arsitektur, yaitu mengenai perumusan arah strategis dan model bisnis perusahaan dalam bertransformasi menuju Industry 4.0 kedepan, serta arsitektur perusahaan yang meliputi aspek organisasi dan SDM, proses, dan teknologi perusahaan.

Ada juga jasa Rencana Implementasi, dimana perumusan program inisiatif transformasi dan roadmap Perusahaan menjadi tujuan, sedangkan jasa pendukung lainnya adalah konsultansi penerapan Lean Production/Management System dan Strategic Sourcing.