Rencana Prancis Kenakan Pajak CPO Bisa Ganggu Hubungan Diplomatik

Selasa, 09 Februari 2016 | 08:17


Saya tahu bahwa ada intensi untuk melindungi minyak nabati produksi mereka seperti minyak kedelai dan bunga matahari, tetapi yang mereka lakukan sangat tidak adilRencana pemerintah Prancis menerapkan tambahan pajak pada impor minyak sawit dan produk turunannya berpotensi merusak hubungan diplomatik Prancis dengan dua negara produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan rencana pemerintah Prancis untuk menerapkan pajak impor CPO tambahan sebesar 300 euro per ton pada 2017 dan kenaikan akumulatif 100 euro per ton setiap tahun membuat pajak untuk komoditas tersebut lebih tinggi dibanding harga CPO per ton.

Langkah tersebut, lanjutnya, sama saja dengan berniat menghancurkan industri sawit di Indonesia dan Malaysia. Hal tersebut menurutnya tidak bisa diterima, karena banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di industri tersebut. 

Rizal menyebutkan kurang lebih ada 19 juta penduduk yang bekerja di industri sawit di Indonesia, termasuk 2 juta petani kecil di dalamnya. Sementara itu jumlah petani sawit di Malaysia mencapai 450.000 orang.

“Saya tahu bahwa ada intensi untuk melindungi minyak nabati produksi mereka seperti minyak kedelai dan bunga matahari, tetapi yang mereka lakukan sangat tidak adil,” kata Rizal Ramli, Jumat (5/2/2016).

Dirinya menyayangkan rencana kebijakan yang dinilai akan menghancurkan industri dengan jutaan pekerja tersebut justru keluar dari negara yang mengklaim pro terhadap kemanusiaan.

Selain itu, dirinya juga mengingatkan bahwa Indonesia dan Prancis memiliki sejarah hubungan diplomatis yang cukup panjang sejak Indonesia merdeka. “Jangan hancurkan hubungan kedua negara dengan kebijakan yang tidak rasional itu,” ujarnya.

Menteri Industri Pertanian dan Komoditas Malaysia Datuk Amar Douglas Uggah Embas mengatakan pihak Malaysia pun baik dari pemerintah maupun sektor swasta telah melayangkan protesnya kepada pemerintah Prancis mengenai rencana penambahan pajak tersebut.

Selanjutnya, pihak Malaysia akan menindaklanjuti respons pemerintah Prancis terhadap keberatan tersebut. Datuk yakin bahwa pihak Prancis akan menanggapi protes tersebut dengan serius.

“Jika mereka melanjutkan rencana penambahan pajak tersebut, tentu itu akan mengganggu hubungan diplomatis antara kedua negara,” kata Datuk.

Sependapat dengan Rizal, menurutnya, rencana penambahan pajak terhadap CPO tersebut berpotensi menghancurkan industri minyak sawit. Padahal, menurutnya sawit merupakan bahan baku dari bahan bakar yang berkelanjutan, sehingga bisa menjadi solusi masalah iklim dunia.

oleh Muhammad Avisena
sumber http://industri.bisnis.com/