2016, Produksi & Ekspor CPO Masih Hadapi Tantangan

Jumat, 22 Januari 2016 | 08:05


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan untuk tahun ini, tantangan produksi terbesar yaitu ketidakpastian cuaca. El nino yang berlangsung sejak tahun lalu akan menganggu proses produksi buah tahun iniIndustri kelapa sawit nasional diprediksi masih akan menghadapi tantangan berat sepanjang tahun ini baik dari sisi produksi maupun ekspor.

Pada saat yang sama, harga minyak dunia yang terus menurun pun turut menekan harga minyak kelapa sawit nasional.

Risiko tersebut melanjutkan posisi sulit industri sawit yang pada 2015 menghadapi beragam tantangan. Selain pelemahan harga minyak dunia misalnya, industri sawit nasional juga harus menghadapi ancaman el nino, dan isu kebakaran hutan yang ‘menuduh’ perusahaan sawit sebagai aktor utama.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyampaikan untuk tahun ini, tantangan produksi terbesar yaitu ketidakpastian cuaca. El nino yang berlangsung sejak tahun lalu akan menganggu proses produksi buah tahun ini.

“Kami belum bisa memprediksi tapi harapan kami produksi ada kenaikan tipis, mungkin sekitar 500.000 ton. Naik sedikit karena informasinya Februari ini akan ada cuaca panas lagi di Sumatera, katanya masih ada el nino lagi,” kata Joko dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/1).

GAPKI mencatat produksi minya sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada tahun lalu mencappai 32,5 juta ton termasuk olechemical dan biodiesel. Volume tersebut naik 3% dari produksi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 31,5 juta ton.

Terkait ekspor, Joko mengatakan untuk tahun ini volumenya akan tergantung pada beberapa faktor. Pertama, implementasi B20 atau bauran minyak nabati sebanyak 20% pada biodiesel. Jika program ini berjalan dengan baik, maka praktis secara langsung akan menurunkan volume ekspor CPO.

“Untuk tahun ini kan  ditargetkan konsumsi biodiesel domestic sampai 4 juta ton. Ekspor mungkin akan sedikit turun karena biodiesel itu mengambil porsi ekspor. Tapi kinerja biodiesel ini juga tergantung oleh banyak faktor,” ungkap Joko. Program ini, menjadi alasan utama proyeksi terjadinya penurunan ekspor pada tahun ini.

Kedua, ekspor juga bergantung pada upaya perluasan pasar ekspor. Joko menuturkan pasar ekspor juga harus dipertahankan karena secara langsung menambah devisa negara. GAPKI mencatat beberapa negara telah meningkatkan pembelian CPO-nya dari Indonesia.

Dia mencontohkan impor ke Pakistan yang secara konsisten menunjukkan peningkatan. Tahun 2015, impor CPO negara itu dari Indonesia naik 32% ke level 2,19 juta ton dari tahun sebelumnya 1,66 juta ton.

Kenaikan pembelian juga dibukukan oleh Amerika Serikat yang pada 2015 naik hingga 59% menjadi 758.550  ton dari pembelian tahun 2014 sebesar 477.230 ton. “Saya pikir pasar-pasar ekspor ini perlu di-maintain,” kata Joko.

Jika diakumulasikan, total ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada tahun 2015 mencapai 26,40 juta ton atau naik 21% dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 21,76 juta ton. “Pertumbuhan ekspor cukup menggembirakan untuk industri yang tahun ini menghadapi banyak tantangan," kata Joko.

sumber  http://industri.bisnis.com/