BINCANG BISNIS- Bachder Djohan Buddin, Presiden Direktur Sucofindo: Mengembalikan Masa Jaya

Selasa, 20 Oktober 2015 | 13:33


Menjadi perusahaan surveyor pertama di Indonesia, Sucofindo tak berhenti berbenah diri. Memasuki usia 59 tahun, perusahaan ini terus melakukan pemutakhiran peralatan pengujian dan analisisnya. Hal itu terus dilakukan untuk dapat bersaing dengan 100 perusahaan nasional sejenis di Indonesia dan belasan perusahaan global di bidang ini yang sudah terjun di bisnis ini di Tanah Air.Langkah yang dilakukan, antara lain, mengembangkan laboratorium coal bed methane, mineral processing untuk mendukung kebijakan pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas, termasuk dengan peralatan terbaru untuk pengujian produk halal.

Kini klien perusahaan telah mencapai berbagai bidang, mulai dari pertambangan, migas, dan energi. Tak hanya perusahaan besar nasional, termasuk juga BUMN di bidangnya. Klien Sucofindo juga mencakup perusahaan internasional di luar negeri yang membutuhkan pemastian produk atau komoditas tambang dan energi tujuan ekspor.

Kepada wartawan Republika, Dwi Murdaningsih, di kantornya di bilangan Jakarta Selatan, Bachder bercerita mengenai keinginannya untuk mengembalikan masa kejayaan perusahaan 30 tahun silam. Meski begitu, selama satu tahun menjabat sebagai presiden direktur, Bachder Djohan Buddin mengaku belum bisa berbuat banyak untuk perusahaan.

Beberapa keinginan yang ia utarakan yakni melakukan pembenahan internal dan fisik yang selama 20 tahun terakhir tak pernah tersentuh. Antara lain, ia menyatakan, tak ragu untuk memberi promosi terhadap karyawan berprestasi dan juga melakukan demosi untuk mereka yang tidak memberikan kontribusi terhadap perusahaan. Berikut kutipan wawancaranya.

Apa saja ruang lingkup bisnis Sucofindo?
Kita memiliki dua ruang lingkup, yaitu bidang jasa dan sektor industri. Di bidang jasa, kita ada bidang inspeksi dan audit yang meliputi pemeriksaan dan pengawasan suatu proses, kondisi dan spesifikasi suatu objek. Ada pula pengujian dan analisis, baik analisis kinerja maupun kandungan suatu objek. Lalu sertifikasi, konsultasi, dan pelatihan.

Di sektor industri, kita melayani sektor pertambangan mineral dan batu bara, minyak, gas dan energi, kelautan dan perikanan, perdagangan, perindustrian, pariwisata serta otomotif.

Bagaimana perkembangan bisnis saat ini dengan semakin banyaknya perusahaan yang diwajibkan memenuhi standar internasional?
Sucofindo mendukung penerapan standar internasional dan nasional bagi industri dan produk nasional. Di bidang standar industri (sertifikasi produk SNI), Sucofindo terus mengembangkan kompetensinya. Saat ini kami terakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) untuk pengujian sekitar 200 kelompok produk. Di bidang sertifikasi manajemen, kami terus memperluas kompetensi seperti audit energi berbasis ISO 50000.

Siapa saja yang menjadi mitra Sucofindo untuk melayani jasa tersebut?
Kami juga bekerja sama dengan institusi pemerintah untuk melaksanakan sertifikasi sistem manajemen, seperti manajemen pengamanan bersama Polri, manajemen K3 bersama Kemenaker, dan dengan lembaga lainnya di bidang manajemen pembangunan berkelanjutan.

Bagaimana pertumbuhan secara bisnis?
Dalam kondisi seperti sekarang ini, ada beberapa hal yang menghambat, seperti kasus dwelling time, adanya deregulasi mengenai verifikasi. Kalau dikurangi dan dibatasi kan pendapatan kita berkurang.

Mau tidak mau kita harus berpikir bahwa ini rezeki. Deregulasi yang tiba-tiba diubah oleh pemerintah. Kita bisa melihat ke Cina, Korea, mengapa mereka bisa maju. Pemerintahan bisa berubah tapi program 5, 10, 20 tahun bisa jalan. Rencana jangka panjangnya pasti sehingga bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Tahun ini kira-kira kinerjanya bagaimana?
Kita ditarget laba Rp 200 miliar, dengan pendapatan Rp 2,3 triliun. Tahun lalu laba Rp 160 miliar. Bagi saya, yang penting kita harus untung.

Apa yang Anda lalukan selama setahun memimpin Sucofindo?
Saya baru satu tahun, belum banyak yang bisa saya perbuat. Saya belum bisa moving ke luar karena selama ini saya melakukan pembenahan internal. Pembenahan fisik yang selama 20 tahun enggak pernah disentuh.

Pembenahan orang (SDM) juga. Kalau satu tahun performanya kurang bagus, saya copot. Perpindahan itu kan ada yang promosi, ada yang demosi. Tapi, kalau prestasinya tidak bagus terus dipindahkan, itu namanya emosi.

Kita juga melakukan efisiensi. Dulu selama bertahun-tahun kita bayar listrik Rp 980 juta. Sekarang pukul 17.00 listrik wajib saya matikan, jadi ada efisiensi Rp 400 jutaan karena lampu. Kalau ada yang lembur, harus izin dan akan saya cari tahu kenapa harus lembur.

Ada empat program yang saya lakukan di sini. Pertama aktif, produktif, loyal, dan komunikatif. Bagaimana mau produktif kalau tidak aktif dan sebaliknya. Saya nilai itu semua nanti dampaknya terhadap insentif. Begitu pula dengan loyalitas dan komunikasi. Ini penting karena SDM di Sucofindo itu kerja tim, bukan individual. Untuk komunikasi, kita juga ada program direksi mendengar. Di situ kita mencatat semua apa yang dikeluhkan oleh karyawan.

Bagaimana kesiapan infrastruktur perusahaan untuk memberikan hasil analisis yang akurat?
Sucofindo terus melakukan pemutakhiran peralatan pengujian dan analisisnya. Laboratorium Sucofindo tersebar hampir seluruh wilayah Indonesia. Laboratorium pusat kami di Cibitung adalah salah satu laboratorium terlengkap di ASEAN.

Dalam beberapa tahun terakhir, kami mengembangkan laboratorium coal bed methane, mineral processing untuk mendukung kebijakan pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas, termasuk dengan peralatan terbaru untuk pengujian produk halal.

Laboratorium minyak dan gas kami termasuk yang terlengkap dan terpercaya di kawasan ini. Kami juga tengah mengembangkan laboratorium pengujian komponen otomotif untuk mendukung positioning Indonesia sebagai salah satu basis utama produksi otomotif ASEAN.

Bagaimana profil persaingan di industri sertifikasi, jasa analisis, dan bidang-bidang yang menjadi ruang lingkup Sucofindo sekarang?
Sucofindo tidak bermain sendiri di bidang jasa pemastian (inspeksi, pengujian, dan sertifikasi). Ada sekitar 100 perusahaan nasional sejenis di Indonesia dan belasan perusahaan global di bidang ini yang sudah terjun di bisnis ini di Indonesia.

Kita sudah 59 tahun, kita surveyor yang pertama. Saya tidak berani mengklaim nomor satu. Nomor satu yang menentukan user. Dalam menjalankan perusahaan ini kita beda dengan pemborong, kita jual jasa. Berarti kita cerita soal SDM, cerita SDM tak bisa lepas dari cerita soal oknum. Lalu apakah ketika oknum bermasalah apakah institusinya bermasalah? Nah, kita bertanggung jawab moral terhadap brand kita itu.

Dalam persaingan itu posisi Sucofindo ada di mana?
Dalam bidang jasa inspeksi dan pengujian laboratorium, Sucofindo dapat dikatakan memimpin jasa ini di Indonesia. Di bidang sertifikasi sistem manajemen, Sucofindo memiliki tantangan yang tidak ringan dari lembaga sertifikasi asing. Untuk sertifikasi produk, Sucofindo harus menguatkan posisinya sebagai lembaga sertifikasi yang memiliki sarana pengujian terlengkap.

Bagaimana dengan kompetitor di luar negeri?
Di luar negeri juga banyak pemain. Cina sekarang hebat karena pemerintahannya mendukung. Cina maju karena ada kemudahan setiap kali mau melakukan sesuatu. Cina membiarkan apa saja dilakukan (oleh perusahaan), sesudah itu mereka bisa mengangsur (biaya) pelan-pelan, nanti dua tahun baru bayar pajak. Maka dari itu, dia bisa buat produk yang murah dan ada di mana-mana. Jepang juga bagus. Produk Jepang tidak terganti karena terlalu kuat. Korea ada di antara Jepang dan Cina. Korea Selatan mencontoh Jepang.

Siapa saja klien Sucofindo?
Di bidang pertambangan, migas, dan energi, pelanggan-pelanggan Sucofindo tidak hanya perusahaan-perusahaan besar nasional, termasuk BUMN di bidangnya. Tapi juga perusahaan-perusahaan internasional di luar negeri yang membutuhkan pemastian produk atau komoditas tambang dan energi tujuan ekspor.

Pelanggan kami juga industri-industri ternama di bidang produk industri dan produk konsumen. Selain memastikan mutu produk pelanggan, kami juga turut mendukung pengujian untuk keperluan pengembangan produk pelanggan kami.

Kami juga melayani kebutuhan pemerintah dalam bidang pemastian implementasi kebijakan program pembangunan di lapangan, seperti verifikasi ekspor, pemetaan industri, pengawasan perdagangan antarpulau.

Bagaimana Sucofindo melihat peluang saat MEA nanti?
Kami percaya bahwa di era MEA, di mana arus keluar masuk barang dan jasa di kawasan ini semakin bebas, tanpa hambatan tarif, jasa pemastian Sucofindo akan semakin berperan penting. Demikian pula dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan mutu produk, serta upaya perlindungan konsumen oleh pemerintah di era tersebut, kami percaya akan meningkatkan demand jasa pemastian.

Tidak khawatir dengan MEA?
Kalau saya biasa saja. Apa bedanya dengan CAFTA? Yang ada, kita pertahankan domestik kita, lebih kita kreatifkan. Surveyor asing masuk tidak masalah karena mereka tidak serta-merta membawa orang-orang mereka dan infrastrukturnya. Dia akan gunakan orang-orang kita juga, 60 persen-40 persen. Kompetitor kita enggak memiliki lab lengkap. Kita lengkap bahkan hingga sampai ke laboratorium lingkungan.

Bagaimana komposisi SDM di Sucofindo?
Sucofindo memiliki tenaga kerja sekitar 2.700 pegawai. Sebanyak 1.800 pegawai tersebar di 56 titik layanan. Saya nanti tahun 2018 ditinggal 800 pegawai yang akan pensiun.

Kalau saya enggak siapkan lapis-lapis untuk mengganti, nanti saya kelimpungan. Saya punya tanggung jawab itu meski mungkin nanti 2018 saya sudah tidak di sini. Kemudian persoalannya saya harus mulai didik selama dua tahun ini untuk mengganti mereka.

Tapi, itu ada biaya. Itu tantangan terbesarnya. Makanya bertahap sekarang sudah saya hitung (untuk mengganti komposisi pegawai pensiun) karena tidak ada orang yang hari ini menanam besok langsung bisa panen.

Dulu karena tidak banyak orang yang mau bekerja di Sucofindo, maka kita menerima lulusan SMA. Nah, sekarang yang lulusan SMA ini sudah akan memasuki masa pensiun. Nanti semua yang baru-baru wajib S-1.

Apa target dan harapan Sucofindo ke depan?
Saya mau kembalikan Sucofindo kepada masa jayanya 30 tahun lalu. Di saat Sucofindo berumur 25 tahun, ketika itu apa pun investasi dilakukan tanpa ada hambatan masalah biaya. Dulu kita menjadi satu-satunya surveyor yang diakui.

Dulu kita belum berpikir ada persaingan. Tapi, saya sudah ingatkan kalau ada persaingan jangan sampai lengah. Tahun depan kita ingin memantapkan tenaga-tenaga yang andal untuk direkrut.

Apa tantangan Sucofindo ke depan?
Kompetitor setiap saat bertambah, saingannya bertambah. Kita sekarang sudah 59 tahun. Kita ini jual jasa brand dan kompetensi. Jelas kami harus menjaga mutu. Kami memiliki ISO. Nanti dengan MEA kebutuhan juga akan meningkat, terbuka beberapa peluang. Dengan dukungan yang ada, kita sudah siap untuk itu. Kesiapan orang dalam rangka menyongsong kebutuhan dan peluang yang ada juga menjadi tantangan.
n ed: mansyur faqih

***
Andalkan Ilmu 'Sekolah Anak Pinggir Jalan'

Pekan ini, 22 Oktober genap sudah Sucofindo menapaki usia ke-59. Usia yang cukup matang untuk menjadi perusahaan yang semakin mapan. Ke depan, tantangan untuk melangkah pun tidak semakin mudah. Kemajuan zaman memaksa semua perusahaan terus menerus berinovasi agar bisa mempertahankan diri. Apalagi, akhir tahun ini akan disongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kondisi itu diamini oleh Presiden Direktur Sucofindo Bachder Djohan Buddin. Menurut dia, dengan MEA nanti akan semakin membuka peluang bagi perusahaan untuk terus bergerak maju ke depan. Bagi dia, ada atau tidak adanya MEA, kewajiban untuk menjaga mutu dan imej perusahaan adalah mutlak. Malah, MEA disebut semakin menyadarkan kebutuhan terhadap jasa yang selama ini menjadi ranah bisnis Sucofindo.

Pengalamannya bertahun-tahun memimpin kawasan industri Makassar dan bermacam organisasi lainnya ia jadikan guru untuk melangkah memimpin perusahaan. Ada empat program yang ia lakukan untuk memimpin perusahaan, yaitu aktif, produktif, loyal, dan komunikatif.

Semua pemangku kepentingan di Sucofindo, kata dia, harus memiliki empat hal tersebut. Satu dengan yang lainnya saling berhubungan yang bisa menjadikan Sucofindo menjadi semakin solid. Soliditas itu yang menjadi salah satu kunci untuk menghadapi persaingan di dunia industri. "Pengalaman itu guru yang paling abadi," kata dia kepada Republika, di kantornya di bilangan Jakarta Selatan, pekan lalu.

Memiliki 2.700 karyawan yang tersebar di 56 lokasi, dia menyadari betul perlunya sifat kepemimpinan untuk bisa menyatukan potensi-potensi yang ada. Ia pun mencoba membawakan gaya kepemimpinan informal ketika berada di Sucofindo.

Alasannya, gaya kepemimpinan yang dibuat-buat ternyata kadang malah membuat komunikasi menjadi terhambat. Sebagai orang yang mengaku mengenyam pendidikan di "sekolah anak pinggir jalan", dia tahu caranya berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan supaya lebih bisa diterima.

Di kantor, dia mencoba membangun suasana yang lebih hangat. Satu sama lain diupayakan saling mengobrol hingga suasana lebih cair. Hal itu diharapkan bisa berdampak pada kinerja sehari-hari. "Pernah saya naik lift dan orang-orang di dalam lift hanya saling diam. Itu pagi hari. Bagaimana jika sore hari, sudah pada capai," kata dia.

Bukan hanya semata soal bisnis, Sucofindo juga berupaya membantu industri kecil untuk ikut berkembang di tengah persaingan bisnis. Misalnya, bekerja sama dengan institusi pemerintahan untuk memberikan SNI bagi UMKM. Dengan pemberian SNI ini diharapkan kiprah UMKM bisa ikut terangkat.

Banyaknya kompetitor pun ia anggap sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik. Dia cukup percaya, infrastruktur yang dimiliki Sucofindo bisa mendukung permintaan di bidang jasa yang semakin luas.n
ed: mansyur faqih

sumber http://www.republika.co.id