Majukan Industri Pariwisata Sumut, Hotel Harus Memiliki Sertifikasi

Senin, 14 September 2015 | 07:03


Hotel yang ada di Sumatera Utara diharapkan untuk dapat melakukan sertifikasi dari lembaga yang kredibel. Hal ini dilakukan untuk memajukan industri pariwisata Sumatera Utara dengan memaksimalkan wisata lokal dan meningkatkan daya saing industri. “Penyedia akomodasi menjadi bagian dari upaya untuk memajukan industri pariwisata. Untuk itu, hotel yang ada harus distandarisasi yang dibuktikan dengan sertifikasi,” kata Johnnie Sugiarto, selaku Ketua DPP PHRI/Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pariwisata, dalam acara seminar pariwisata dengan tema “Memaksimalkan Potensi Lokal dan Meningkatkan Daya Saing Industri Melalui Sertifikasi”, di Hotel Grand Antares, Medan, Jumat (11/9/2015).

Dikatakannya, manfaat penerapan standar usaha hotel dilakukan untuk menjamin kualitas produk, pelayanan dan pengelolaan dalam rangka memenuhi kebutuhan tamu.

“Sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata, mulai tanggal 3 Oktober 2015, setiap hotel harus sudah disertifikasi. Saat ini belum ada hotel yang melakukan sertifikasi,” ungkapnya.

Dia menambahkan, setiap hotel yang melakukan sertifikasi harus memiliki 25 item mutlak.

“Hotel yang tidak melakukan sertifikasi, akan kita lakukan teguran secara bertahap hingga 180 hari. Setiap hotel yang tidak melakukan sertifikasi, maka tempat itu tidak boleh mencantumkan “Hotel” ditempat penginapannya. Sanksinya adalah pencabutan ijin dan Tanda Daftar Usaha Pariwisatanya harus diubah,” jelasnya.

Ia mengatakan, untuk mendapatkan sertifikasi tersebut perlu kesadaran tinggi dari pihak hotel sendiri.

“Jadi pihak hotel terlebih dahulu menyiapkan dokumen dengan penilaian mereka sendiri dan harus sesuai dengan apa yang diharapkan,” katanya.

Sementara itu, Deputi Direktur Bank Indonesia Provinsi Sumut, Budi Trisnanto mengatakan, Sumatera Utara memiliki potensi wisata yang cukup besar.

“Sebagai penduduk terbesar keempat di Indonesia, Sumatera Utara memiliki sumber daya yang potensial, seperti luas wilayah, kuliner, dan tempat wisata yang menarik,” jelasnya.

Berdasarkan survei wisatawan mancanegara Bank Indonesia pada tahun 2014 lalu di terminal keberangkatan Bandara KNIA, ditemukan hal utama yang perlu segera dibenahi pariwisata di Sumut, yaitu tentang infrastruktur, pelayanan publik dan kesiapan masyarakat setempat.

“Perlu ada kerjasama dan komitmen dari seluruh stakeholder untuk memajukan industri pariwisata di Sumut,” tuturnya.

Senada, Direktur Komersial II PT Sucofindo Sufrin Hanan menjelaskan, sebagai perusahaan BUMD pihaknya memiliki visi untuk memajukan perusahaan kelas dunia yang kompetitif, handal dan terpercaya.

“Industri pariwisata di Sumut memerlukan pembangunan infrastuktur dan saran yang berkualitas. Di bidang pariwisata, dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai seperti hotel,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur KOJI Communication Umar Idris, selaku penyelenggara seminar mengungkapkan, pariwisata memiliki potensi untuk menjadi penggerak ekonomi ditengah perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Data dari Kementerian Pariwisata menyebutkan, jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia pada Juli 2015 sebanyak 814.233 atau tumbuh 4,76 persen. Hal ini mengalami kenaikan dibandingkan Juli 2014 sebanyak 777.210 orang,” pungkasnya. [KM-03]


sumber http://kabarmedan.com