Ini Indikator Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi RI

Rabu, 29 Juli 2015 | 13:36


Direktur Penelitian Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, ada beberapa indikator yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia (domestik), terutama dari dalam negeri. Dia mengatakan, yang paling terlihat adalah perlambatan penjualan kendaraan bermotor seperti motor dan mobil yang terjadi perlambatan setelah kegiatan Pemilu 2014.

"Dilihat dari beberapa indikator melambat, yang paling terlihat adalah perlambatan penjualan kendaraan bermotor, mobil dan motor penjualannya sama-sama melambat setelah Pemilu 2014. Kemudian juga konsumsi semen, itu meskipun sempat naik, tapi turun terus usai Pemilu tahun lalu," kata dia di Gedung Sucofindo, Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Menurutnya, Indonesia mengalami penurunan konsumsi dan penjualan di hampir semua bahan baku dan bahan modal. "Bahkan untuk listrik dan PLN turun juga meskipun hanya 2,64%," ujarnya.

Selanjutnya, kata Faisal, dari sisi penggunaan dan konsumsi rumah tangga, modal investasi cenderung ada penurunan terutama di dalam ekspor dan impor Indonesia.

"Itu turun signifikan. Sehingga diharapkan konsumsi pemerintah bisa berjalan dengan baik setelah ini. Karena penopang pertama dan utama masih berada di konsumsi masyarakat dan investasi," jelas dia.

Dari segi penanaman modal, penanaman modal asing (PMA) sejak 2010 mengalami perlambatan pertumbuhan jika dibanding penanaman modal dalam negeri (PMDN).

"PMA dan PMDN pertumbuhannya dari tahun ke tahun melambat sejak 2010. Di mana PMA pertumbuhannya 0%. Sedangkan PMDN masih positif meski lebih melambat juga," kata Faisal.

Di perdagangan impor, Indonesia sangat tertolong dengan kondisi harga minyak dunia yang saat ini terus turun. Selain itu, negara tujuan utama ekspor pun mulai bergeser.

"Kita tertolong di impor minyak dunia. Karena harganya yang terus turun meskipun di awal tahun ini sempat mengalami kenaikan. Negara tujuan ekspor pun berubah tahun ini. Biasanya, China selalu berada di urutan atas, namun karena saat ini China posisinya terus turun, dari Januari-Mei 2015 Tiongkok sudah ada di bawah Jepang. Amerika Serikat (AS) lebih stabil walaupun sama-sama turun tapi sedikit. India malah mengalami kenaikan 12%," jelasnya.

Sementara, dari sisi jenis brang, pertanian, manufaktur dan tambang juga mengalami penurunan. Padahal, Indonesia sangat terkerek oleh penurunan ekspor di pertambangan. Bahkan pertanian dan manufaktur saat ini mengalami penurunan walaupun tidak sebesar tambang.

Meski demikian, secara umum sektor-sektor tersebut mengalami perlambatan, bahkan hampir semua. Namun, ada juga sektor yang tumbuh dengan baik walaupun hanya sedikit.

"Misalnya, sektor telekomunikasi dan informasi yang hanya 1,2%. Kemudian di sektor keuangan juga tumbuh meskipun tidak sebesar telekomunikasi," pungkas Faisal.

oleh Disfiyant Glienmourinsie
source: http://ekbis.sindonews.com/