Volume Ekspor Hortikultura Turun 20%

Jumat, 10 Juli 2015 | 10:13


Volume ekspor buah dan sayuran atau hortikultura pada semester I/2015 turun hingga hingga 20% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Ketua Asosiasi Eksportir Buah dan Sayuran Indonesia (AESBI) Jhony Hasan mengatakan kinerja semester ini lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Angkanya belum jelas, tapi kelihatannya dari anggota yang melaporkan menurun dari 10% sampai 20%,” ujar Jhony kepada Bisnis.com, Kamis (9/7).

Jhony memproyeksikan untuk semester II, volume ekspor hortikultura pun akan mengalami hal serupa. Hal tersebut karena produksi buah dan sayuran masih dibayangi ketidakpastian oleh cuaca ekstrem.

“Buah-buahan dan sayuran bergantung dengan cuaca. Jadi untuk semester II belum dapat dipastikan karena cuaca kering seperti sekarang sangat berpengaruh, karena kekeringan ini banyak yang sulit untuk memperoleh hasil yang bagus,” ujarnya.

Selain itu, menurut Jhony, pemerintah seharusnya dapat lebih berperan untuk dapat meningkatkan volume ekspor hortikultura tersebut.

Jhony berharap pemerintah dapat segera memberikan kredit lunak dan mencari untuk investor.

“Jika volume ekspor ingin terdongkrak, pemerintah harus membiayai atau memberikan kredit lunak kepada investor dan para petani untuk menanam kawasan-kawasan buah serta sayuran,” ujar Jhony.

Sementara itu, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar meminta pemerintah mengencarkan penyuluhan terhadap petani hortikultura guna memacu volume pasar ekspor ke luar negeri.

Ketua Harian HKTI Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan ekspor hortikultura bisa semakin menggairahkan dan dapat terus berkembang asalkan petani dapat terus meningkatkan kualitas produknya.

Akan tetapi, kurangnya penyuluhan dari pemerintah terutama tranfer teknologi memicu ekspor produk hortikultura stagnan bahkan menurun.

"Sejak dulu, sebenarnya sedikit-sedikit kita sudah ekspor sayuran dan buah ke Singapura dan Malaysia. Namun, kurangnya daya saing berakibat ekspor menurun," katanya.

Menurutnya, saat ini Indonesia harus bersaing dengan negara-negara seperti Thailand, Korea, dan China, yang mana mereka sangat memperhatikan kualitas produk bagi negara ekspor yang dituju.

"Produk hortikultura dari  ketiga negara tersebut lebih bermain di kualitas produk yang serba organik," ujarnya.

Secara terpisah, Pemerintah daerah di Jabar menyiapkan serangkaian pengembangan teknologi di sektor pertanian guna meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produk hortikultura dari Tanah Priangan.

Pemprov Jabar akan memulainya dengan pemetaan zona agroekologi (AEZ) komoditas existing, penerapan sistem budi daya sesuai good agriculture practices (GAP), bimbingan pembuatan standar operasional prosedur (SOP) komoditas, serta penerapan good handling practices (GHP).

Kepala Bidang Produksi Hortikultura Jabar Obas Firmansyah mengatakan dorongan dari pemerintah secara bertahap akan menyinergikan antara program pusat, provinsi dan kabupaten/kota, terutama untuk komoditas unggulan nasional dan daerah,

“Kita awali existing komoditas, sehingga fokus pengembangan komoditas akan lebih terarah dengan kesesuaian ekosistem masing-masing komoditas serta dimungkinkan sistem budi daya tidak monokultur,” katanya.

Dia memandang pembinaan Pemprov Jabar kepada kabupaten/kota untuk penerapan GAP, SOP, dan GHP komoditas akan mendorong produk hortikultura mendapatkan sertifikasi Prima agar dapat menyuplai produk terbaik.

“Konsekuensinya produk hortikultura di Jabar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumsi di Jabar, suplai terbaik secara nasional dalam menyongsong bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asean,” tuturnya.

oleh Adi Ginanjar Maulana, Wisnu Wage, Agne Yasa,
sumber http://industri.bisnis.com