iCRAFT 2015: UKM Kerajinan Tanah Air Masih Terbentur Masalah Pembiayaan

Jumat, 12 Juni 2015 | 11:22


Usaha Kecil Menengah kini bisa sedikit lega, pasalnya pemerintah berencana untuk mengupayakan penurunan bunga pembiayaan kredit UKM dalam waktu dekat. Usaha Kecil Menengah (UKM) Kerajinan di Indonesia secara nyata memberikan kontribusi cukup besar bagi percepatan tumbuhnya ekonomi nasional, khususnya dalam menyediakan lapangan kerja baru. Kondisi tersebut tentunya dinilai cukup potensial, karena berdampak langsung pada pengurangan jumlah pengangguran di Indonesia seiring dengan pertumbuhan ekonomi kreatif tanah air.

Hal ini juga disampaikan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam sambutannya pada acara pembukaan iCRAFT 2015, di Jakarta Convention Center, Rabu (10/6), “Dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi, upaya yang paling besar adalah upaya dari pengusaha-pengusaha masyarakat sendiri. Karena sebenarnya hal yang sangat penting adalah penyediaan lapangan pekerjaan.”

“Ukuran suatu negara ekonominya berkembang atau tidak itu diukur dari seberapa banyak orang bekerja. Maka lapangan kerja harus dijaga agar tidak menurun. Salah satunya adalah industri tetap berjalan, perdagangan berjalan, kerajinan berjalan,” lanjutnya.

Pasalnya sekalipun mampu menyerap tenaga kerja, pertumbuhan UKM masih terbentur dengan masalah pembiayaan dan pemasaran, hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Suryani SF. Motik.

“Kita tahu persis jadi pengusaha memang harus optimis. Para peserta pameran iCRAFT ini desainnya bagus, produknya bagus, namun mereka punya dua persoalan. Yang pertama soal pembiayaan, yang kedua adalah pemasaran,” ungkap Suryani dalam sambutannya di acara pembukaan iCRAFT 2015, Rabu (10/6).

“Selain itu bunga kredit untuk UKM masih 20-30%,” tambah Suryani.

Suryani berharap nantinya akan ada kebijakan dari pemerintah berupa suatu pola pembiayaan yang dapat meringankan beban UKM.

Menanggapi hal tersebut, Jusuf Kalla mengakui  bahwa memang masih banyak hal yang harus diperbaiki pemerintah terkait tingginya beban bunga pembiayaan bagi UKM.

“Banyak hal yang harus kita perbaiki. Memang kita menyadari bahwa ada ketidaksesuaian dalam prinsip perbankan pada tahun-tahun terakhir, yaitu kredit usaha kecil jauh lebih tinggi bunganya dibanding usaha besar. Itu suatu hal yang harus diluruskan,” ucap Jusuf.

Jusuf juga menyadari, hal tersebut akan menjadi hambatan besar bagi UKM dalam mengembangkan usahanya yang pastinya akan berpengaruh pada roda perekonomian Indonesia. Untuk itu ia memastikan bahwa  pemerintah akan berupaya menurunkan beban bunga kredit UKM dalam waktu dekat.

“Kita akan wujudkan untuk secara drastis menurunkan kredit usaha kecil, Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kupedes dari 24-22% ke 12%,” jelas Jusuf.

“Hal ini harus dilaksanakan dalam waktu singkat, karena sangat tidak adil kalau yang kecil lebih tinggi bunganya dibanding pengusaha besar. Jadi pengusaha kecil tidak bisa maju-maju karena dimakan oleh bunga bank. Karena itu kita pastikan bahwa ini akan kita turunkan dalam satu bulan ini,” lanjut Jusuf.

Disampaikan Jusuf Kalla, recananya pemerintah akan mensubsidi sebagian bunga kredit UKM tersebut dengan memberikan dana murah kepada perbankan./ Adr