Sucofindo Nilai MEA Jadi Peluang dan Tantangan

Selasa, 12 Mei 2015 | 15:02


PT Sucofindo menilai pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), pada Desember 2015 nanti, tidak perlu dicemaskan. Justru harus disikapi sebagai peluang. Pasalnya Indonesia sudah berpengalaman menjalin hubungan perdagangan internasional. Karena itu, pemerintah dan dunia usaha di Tanah Air perlu menyikapi pemberlakuan MEA sebagai peluang dan tantangan.Wakil Presiden Sucofindo Soleh Rusyadi mengatakan, saat ini ekspor Indonesia menguasai 25 persen pasar ASEAN. Jadi masih lebih unggul dibanding negara-negara lain. Pemberlakuan MEA yang berarti penerapan tarif bea masuk 0 persen di negara-negara ASEAN diyakini Soleh akan menjadikan Indonesia memiliki peluang yang lebih luas dalam menguasai pasar ASEAN.‬ Indonesia, kata dia, berpeluang menjadi basis produksi industri disamping berpeluang menguasai pasar tenaga kerja.‬ Bahkan dia meyakini, Indonesia berpeluang memperluas penguasaan pasar jasa unggulan, seperti konstruksi, kesehatan, komunikasi, dan pariwisata.‬

"Yang perlu dilakukan dunia usaha dalam menguasai pasar ASEAN pada saat pemberlakukan MEA adalah meningkatkan efisiensi, inovasi, dan kualitas produk.‬ Disamping itu, yang harus dilakukan adalah memperluas jaringan di kawasan, meningkatkan promosi produk di kawasan, meningkatkan penguasaan bahasa asing personelnya, dan meningkatkan ketrampilan personelnya melalui pelatihan dan sertifikasi," ujar Soleh dalam Diskusi Publik "Menimbang Daya Saing Industri Indonesia dalam ASEAN Economic Community", di Jakarta, pada Jumat (8/5).‬

Sementara terhadap BUMN Jasa Inspeksi sendiri, Soleh mengingatkan perlunya memperluas jaringan bisnis lewat kerja sama teknis, menambah laboratorium dan modernisasi alat, memperluas cakupan akreditasi sebagai Lembaga Inspeksi, Lembaga Uji, dan Badan Sertifikasi; disamping memperbanyak kerjasama peningkatan peningkatan kompetensi dengan Perguruan Tinggi (PT) dan pusat-pusat keunggulan lain.‬

Dosen Hubungan Internasional Fisip Universitas Nasional, Jakarta, Zulkarnain mengingatkan MEA 2015 tidak mungkin untuk dihindari. Indonesia dituntut untuk bekerja keras bagaimana meningkatkan daya saing industri tersebut sehingga memberi manfaat dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia sekaligus memajukan ekonomi nasional.‬ "Tentu ini bukanlah pekerjaan mudah. Diperlukan sejumlah strategi tertentu baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah, agar MEA 2015 membawa berkah bagi Indonesia. Perlu juga adanya upaya meningkatkan daya saing industri Indonesia dalam MEA 2015 secara kolektif yang harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan.‬ Pelaku usaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta Masyarakat sebagai bagian dari pasar, adalah simpul-simpul kolektif yang harus bersinergi dalam meningkatkan daya saing industri tersebut.‬ Daya saing industri mutlak dikedepankan oleh semua pihak yang terlibat dalam aktivitas perdagangan bebas tersebut. Pemerintah harus secara terus menerus melakukan pembangunan infrastruktur, terutama infrastruktur yang dianggap prioritas dan relevan," pungkasnya. (ers)


sumber http://www.indopos.co.id