Sucofindo Menilai MEA Menjadi Sebuah Peluang Memperluas Pasar

Senin, 11 Mei 2015 | 14:08


PT Sucofindo mengatakan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau Pasar Bebas ASEAN pada akhir 2015 harus disikapi sebagai peluang. Pemberlakuan MEA memungkinkan produk-produk dalam negeri memasuki pasar yang lebih besar di negara-negara ASEAN lainnya. Wakil Presiden PT Sucofindo (Persero), Soleh Rusyadi mengungkapkan jika Indonesia sudah berpengalaman menjalin hubungan perdagangan internasional. Oleh karena itu, pemerintah dan dunia usaha di Tanah Air perlu menyikapi pemberlakuan MEA sebagai peluang dan tantangan.

Hal tersebut disampaikan oleh Soleh Rusyadi dalam Diskusi Publik “Menimbang Daya Saing Industri Indonesia dalam ASEAN Economic Community“, di Jakarta, Jumat (8/5). Dalam kesempatan tersebut Soleh menjelaskan bahwa pada saat ini ekspor Indonesia menguasai 25 persen pasar ASEAN, masih lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara lain.

Pemberlakuan MEA yang berarti penerapan tarif bea masuk 0 persen di negara-negara ASEAN diyakini akan menjadikan Indonesia memiliki peluang yang lebih luas dalam menguasai pasar ASEAN. Kondisi tersebut harus bisa dimanfaatkan dengan keunggulan dan kelebihan yang dimilki oleh Indonesia.

Rusyadi berpendapat jika Indonesia berpeluang menjadi basis produksi industri disamping berpeluang menguasai pasar tenaga kerja. Bahkan Rusyadi meyakini jika Indonesia berpeluang memperluas penguasaan pasar jasa unggulan seperti konstruksi, kesehatan, komunikasi, dan pariwisata.

Selain itu Rusyadi menambahkan yang perlu dilakukan oleh dunia usaha dalam menguasai pasar ASEAN pada saat pemberlakukan MEA adalah meningkatkan efisiensi, inovasi, dan kualitas produk. Melalui cara tersebut produk-produk yang dihasilkan akan lebih kompetitif karena memiliki kualitas yang baik dan harga jual yang bersaing.

Selanjutnya yang harus dilakukan adalah memperluas jaringan di kawasan, meningkatkan promosi produk di kawasan, meningkatkan penguasaan bahasa asing bagi sumber daya manusia dan meningkatkan keterampilan sumber daya manusia Indonesia melalui pelatihan dan sertifikasi.

Sementara terhadap BUMN Jasa Inspeksi sendiri, Soleh Rusyadi mengingatkan perlunya memperluas jaringan bisnis lewat kerja sama teknis, menambah laboratorium dan modernisasi alat, memperluas cakupan akreditasi sebagai Lembaga Inspeksi, Lembaga Uji dan Badan Sertifikasi. Selain itu juga perlu memperbanyak kerjasama peningkatan peningkatan kompetensi dengan Perguruan Tinggi (PT) dan pusat-pusat keunggulan lain.

Sucofindo sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor jasa verifikasi dan pengujian dinilai akan memiliki peran yang sangat penting pada saat memasuki era MEA, karena akan berperan untuk melindungi konsumen serta menjaga standar produk untuk tetap dalam kondisi yang baik bagi produk-produk yang nantinya akan memasuki Indonesia.

Jasa verifikasi terhadap produk impor ini juga untuk menciptakan standar dan operasi kepada para importir serta untuk memudahkan konsolidasi data dan informasi. Jasa inspeksi dan pengujian seperti ini memang akan selalu dibutuhkan dalam berbagai situasi ekonomi oleh pemerintah maupun dunia usaha sebagai jasa pendukung perdagangan baik untuk tingkat nasional, regional maupun global.

sumber http://beritadaerah.co.id