Seluk Beluk Sertifikasi Bengkel dan Uji Kendaraan

Senin, 04 Mei 2015 | 15:37


Untuk urusan perawatan dan perbaikan, kebanyakan pemilik mobil pasti akan mengandalkan bengkel. Di Indonesia sendiri, ada dua klasifikasi bengkel Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan bengkel umum.

Menurut Rija Amperianto, Senior Manager Transportation, Electrical and Telematic Sucofindo, sebenarnya konsep dasar bengkel adalah tempat untuk pemeliharaan (maintenance). Banyak orang memahami antara perawatan dan pemeliharaan adalah hal yang sama, padahal berbeda.

Perawatan itu sifatnya kuratif dan lebih kepada “penyembuhan” yaitu berupa treatment yang dilakukan terhadap sesuatu yang rusak atau tidak berfungsi secara normal, contoh mudahnya adalah ketika mobil rusak lalu diperbaiki.  Sedangkan kalau pemeliharaan itu sifatnya preventive action di mana dilakukan tindakan atau upaya teknis secara periodik, walaupun kendaraan itu tidak dalam kondisi rusak, contohnya adalah mengganti oli atau pelumas sesuai spesifikasi dan waktunya. Jika kita membeli kendaraan baru, selalu di buku service dicantumkan secara detil jadwal pemeliharaan berkala, sehingga dengan mengikuti itu diharapkan umur teknis dari kendaraan bisa maksimal.


“Bagus atau tidaknya sebuah bengkel itu secara umum bisa diukurdari tiga aspek. Yang pertama adalah aspek kemampuan manusia (mekaniknya), dan yang kedua adalah aspek teknologi atau alatnya dan yang ketiga adalah aspek manajemen atau prosedur,” tambah Rija.



SERTIFIKASI BENGKEL

Rija menjelaskan, konsep sertifikasi bengkel merupakan bentuk kebijakan pemerintah dalam melindungi konsumen mobil  Completely Built Up (CBU) agar jelas tempat service dan kesediaan sparepart-nya di dalam negeri. Untuk itu sebelum memberi izin kepada pihak importir mobil CBU, dipersyaratkan agar importir  tersebut memilih bengkel-bengkel yang memenuhi persyaratan tertentu. Bengkel-bengkel inilah yang wajib  disertifikasi terlebih dahulu oleh perusahaan independen seperti Sucofindo.

Dalam kebijakan pemerintah tersebut, klasifikasi bengkel-bengkel bersertifikasi ini terdiri dari beberapa tingkatan, yang kemudian pada kelas tertinggi adalah menjadikan bengkel umum sebagai tempat uji berkala dimana sampai saat ini konsep tersebut belum dapat diimplementasikan. Namun begitu, subtansi dari konsep sertifikasi bengkel tentu kembali lagi kepada masalah safety dan perlindungan konsumen,” tambahnya.


KEUTAMAAN UJI KENDARAAN ATAU KIR

Rijal kembali menjelaskan bahwa uji kendaraan bermotor atau yang lazim disebut kir, saat ini tempatnya masih terbatas, sehingga awalnya pemerintah memberikan akreditasi kepada bengkel-bengkel kelas tertentu untuk dapat menjadi tempat uji berkala. Bengkel-bengkel tersebut diatur dalam Undang-undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) No.55 tahun 2012. Didalam PP disebutkan ada tiga pihak yang bisa melakukan uji berkala, yakni balai pengujian, pihak swasta dan bengkel-bengkel ATPM yang telah terakreditasi.

Dari latar seperti di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ujung dari adanya sertifikasi bengkel adalah uji berkala. Indonesia belum menganut azas uji kendaraan berkala untuk semua jenis kendaraan, sehingga yang banyak melakukan uji kendaraan hanaya mobil niaga saja. Sementara apabila merujuk kepada negara-negara maju, keamanan kendaraan sudah menjadi kewajiban bahkan untuk kendaraan pribadi.

Jadi apabila nanti ada peraturan yang mengatur kewajiban semua kendaraan baik niaga maupun pribadi wajib diuji berkala, maka bengkel-bengkel yang sudah disertifikasi inilah yang akan menjadi ujung tombaknya.

“Sertifikasi bengkel saat ini meredup karena sifatnya tidak mandatory, sehingga sekarang yang sering datang ke Sucofindo hanya yang harus memenuhi syarat impor CBU. Gunanya untuk memproteksi para konsumen CBU agar jelas dimana harus men-service kendaraanya,” ujar Rija.

Dari sisi teknologi, pengujian berkala kendaraan bermotor tidak memerlukan teknologi yang canggih, karena peralatan tersebut bisa didapat dimana saja. Bengkel-bengkel yang ada saat ini dengan sejumlah investasi peralatan uji dan dilakukan assessment oleh Badan sertifikasi dalam negeri juga mampu mencapai kelas bengkel sebagai tempat uji berkala.

Dari segi keamanan berkendara, apabila mobil-mobil sudah di-service secara benar di bengkel-bengkel yang tepat, maka dapat disimpulkan mobil-mobil itu aman dikendarai.

Sebagai contoh sederhana “Apabila ingin tahu bengkel mana yang tepat untuk men-service mobil Anda adalah dari cara membuka baut. Cara membuka baut itu bukan hal yang remeh, ada Standar Operasional Prosedur (SOP) dan toolsnya tersendiri. Kebanyakan bengkel saat ini banyak yang tidak  mengikuti prosedur yang tepat, sehingga baut yang dibuka bisa rusak ulirnya,” terang Rija.

Di kahir perbincangan Rija menjelaskan, bahwa bengkel yang mau naik kelas menjadi bengkel uji berkala, harus disertifikasi dulu sebelum diakreditasi oleh pihak berwenang. Sertifikasi ini juga akan sangat membantu pihak asuransi untuk melakukan assessment terhadap bengkel rekanannya.







Sumber ;  Allianz