Investigasi BBPOM Buktikan Saus PT DAP tanpa Pewarna Tekstil

Jumat, 27 Maret 2015 | 11:07


Berdasarkan hasil investigasi oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Medan terhadap seluruh material yang diolah PT Duta Ayumas Persada (DAP), terbukti dan dijamin saus merek Dena, Sunflower dan Bola Dunia yang diproduksi perusahaan itu tanpa bahan berbahaya terutama pewarna tekstil Orange RN.Direktur PT Duta Ayumas Persada (DAP), Tahana Djuandi yang akrab disapa Jimmy, menjelaskan itu kepada wartawan, Rabu (25/3). "Kami menjamin, seluruh produk yang dihasilkan PT DAP tidak menggunakan bahan berbahaya terutama pewarna tekstil Orange RN," tegas Jimmy yang didampingi penasihat hokum PT DAP, Sukiran.

Jimmy menyatakan, pihaknya sangat prihatin terhadap kesimpulan terlalu premature yang menyebabkan pabrik PT DAP di Jalan Raya Namorambe, Pasar IV, Kabupaten Deliserdang digerebek Poldasu beberapa waktu lalu. "Melalui investigasi secara komprehensif tersebut tidak ada ditemukan kandungan bahan berbahaya dalam seluruh produk PT DAP, mulai dari bahan mentah hingga produk yang telah diproses," imbuhnya.

Karenanya, lanjut Jimmy, mewakili PT DAP dia memberikan apresiasi terhadap kinerja BBPOM, sebagai lembaga resmi yang dilindungan undang-undang dalam pengawasan obat dan makanan, serta menerapkan quality management system (QMS) 17025 dengan ISO 9001 yang melakukan penelitian melalui lima tahapan.

Dijelaskannya, PT DAP memang menggunakan zat pewarna tapi tidak berbahaya dan khusus untuk produksi makanan, yakni bahan tambahan pangan berwarna merah allura dengan nama Idacol bernomor pendaftaran pangan BPOM RI ML 277739007118 dan pewarna kuning FCF dengan nama Idacol dengan bernomor pendaftaran pangan BPOM RI ML 277739003118.

"Karena itu sampai saat ini tidak ada konsumen yang dirugikan dan melakukan sengketa atau keberatan, serta melaporkan saus cabai merek Dena, Sunflower dan Bola Dunia," ungkap Jimmy.

Soal izin produksi saus cabai Sunflower dan Bola Dunia yang telah habis masa berlakunya, menurut Jimmy sedang dalam proses perpanjangan. "Pengurusan izin itu memakan waktu, karena perpindahan sistem dan manual ke online," tandasnya.

Ditambahkan Sukiran, penasihat hukum PT DAP, hasil uji laboratorium terbaru memastikan produk yang dihasilkan PT DAP tidak mengandung bahan atau zat berbahaya yang dikenal dengan istilah Rodamin B, sehingga konsumen atau mitra usaha diminta tidak resah.

"Hasil terbaru ini menunjukkan kita tidak menggunakan zat pewarna berbahaya atau bahan tekstil di produk kami. Perlu diketahui, kami yang meminta dilakukan pengujian tersebut," ujar Sukiran didampingi B Silalahi.

Dia pun memastikan, sejak beroperasi pada tahun 1973 pihak perusahaan senantiasa menjaga kualitas dan bahan baku yang dipasok dan selama ini BBPOM rutin melakukan pengecekan ke pabrik atau mengambil contoh produk di pasaran.

Diakui Sukiran, adanya tindakan dari Poldasu sempat membuat resah pemasok bahan baku maupun distributor, tapi pihaknya tetap memberi jaminan didukung dua hasil uji laboratorium BBPOM dan Sucofindo.

Meski demikian, dia mendukung kinerja kepolisian melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang melanggar peraturan, tapi hendaknya tetap menjunjung asas praduga tak bersalah. "Jangan sampai orang tak bersalah menjadi rugi," tegasnya.

Soal kerugian yang diderita pasca penggerebekan di pabrik tersebut, menurut Sukiran perusahaan rugi materi dan moril namun. Sedangkan terkait langkah hokum, dia mengatakan hal itu masih menjadi pertimbangan agar tidak terjadi persinggungan dengan instansi-instansi terkait.

Sebelumnya, PT DAP digerebek petugas Subdit I/Indag Direktorat Reserse Kriminal Khusus Poldasu, Rabu (11/3) karena diduga menggunakan zat pewarna tekstil. (khairunnas/ys rat)


sumber http://www.medanbisnisdaily.com