Inilah Hasil Survei Kepuasan Terhadap BPJS Kesehatan

Senin, 12 Januari 2015 | 07:31


Sejak beroperasi 1 Januari 2014 lalu, BPJS Kesehatan telah banyak melakukan upaya untuk memberikan layanan kepada pesertanya. Namun, tidak sedikit pula keluhan masyarakat soal kekurangan layanan di lapangan, sehingga membutuhkan perhatian dan perbaikan ke depan.Terkait kepuasan, persepsi, dan kesadaran masyarakat tentang BPJS Kesehatan, dua lembaga riset, yaitu Myriad Research Comitted dan PT Sucofindo melakukan survei. Rata-rata kedua hasil survei ini menunjukkan progres yang baik.

Direktur Riset Myriad Research Comitted Eva Yusuf mengatakan, dari total 17.280 responden masyarakat, sebanyak 81% menyatakan puas terhadap BPJS Kesehatan. Angka ini melampaui target kepuasan masyarakat yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu sebesar 75%. Persentase total sebesar 81% itu merupakan gabungan dari indeks kepuasan peserta terhadap layanan di fasilitas kesehatan tinfkat pertama (FKTP), fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL), kantor cabang dan BPJS Kesehatan pusat.

Presentase indeks kepuasan peserta terhadap fasilitas kesehatan diperoleh dari gabungan antara kepuasan peserta di FKTP 80% dan FKRTL 82%. Pada tingkat FKTP, indeks kepuasan peserta yang dilayani di puskesmas terbilang sama persis dengan kepuasan peserta yang dilayani dokter praktek perorangan dan klinik, yaitu sebesar 80%.

Di tingkat FKRTL, kepuasan peserta yang datang ke rumah sakit pemerintah berada pada angka 80%, sementara untuk rumah sakit swasta sebesar 83%. Dasi sisi jenis layanan, rawat jalan atau rawat inap di rumah sakit, tidak ada perbedaan tingkat kepuasan di antara keduanya. Sedangkan indeks kepuasan peserta rawat jalan dan rawat inap hampir sama tingginya, yaitu 81% dan 80%.

Semenntara itu, indek kepuasan untuk layanan yang bersifat administratif di kantor cabang dan BPJS Kesehatan Center adalah sebesar 80%. Jika dianalisa berdasarkan jenis peserta, indeks kepuasan peserta Pekerja Penerima Upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), dan Bukan Pekerja (BP) dalam memperoleh layanan di FKTP dan FKRTL, relatif sama tingginya, yaitu sebesar 80% hingga 81%. Hal serupa terlihat pula di kantor cabang, di mana indeks kepuasan untuk ketiga jenis peserta non PBI tersebut adalah 79%. Sementara di BPJS Kesehatan Center, indeks kepuasan adalah 79% untuk PPU serta 80% untuk PBPU dan BP.

Dari sisi kepuasan fasilitas kesehatan terhadap BPJS Kesehatan, hasil yang dicapai juga melampaui target. PEmerintah menargetkan angka 65%, namun survei ini menunjukkan mencuat di angka 78%.

 Survei Awareness

Dalam kesempatan yang sama, juga dibeberkan survei awareness atau kesadaran masyarakat terhadap BPJS Kesehatan.  Survei yang dilakukan  PT Sucofindo (Persero) pada 28 Oktober hingga 30 November 2014 lalu itu bertujuan mengevaluasi awareness dan efektivitas ikan serta sosialisasi BPJS Kesehatan. Hasilnya menunjukkan, 95% dari 10.202 responden yang diambil dari 12 revisi regional di seluruh Indonesia mengenal BPJS Kesehatan dengan baik.

“Awareness masyarakat terhadap BPJS Kesehatan mengalami peningkatan. Bila di 2013 selagi masih menjadi PT Askes, awereness masyarakat hanya 58%,  naik menjadi 95% di tahun 2014,” ucap Direktur Komersial PT Sucofindo Mohammad Heru Risa Chakim.

Survei ini juga menyebutkan, hal pertama dan paling diingat dari BPJS Kesehatan adalah berobat gratis disusul dengan asuransi kesehatan rakyat, kemudian pengganti Askes, dan bantuan kesehatan. Ini berarti, BPJS Kesehatan secara merek masih diasosiasikan sebagai asuransi oleh masyarakat, bukan penyelenggara jaminan sosial kesehatan. BPJS Kesehatan juga masih kuat diasosiasikan dengan berobat gratis, khususnya di kalangan masyarakat berpendidikan rendah, yaitu sampai dengan tamat SMP.

“Karena itu, diperlukan strategi untuk mengedukasi dan menggeser pola pikir masyarakat bahwa BPJS Kesehatan adalah sebagai pelaksana program jaminan kesehatan, bukan asuransi,” katanya.

Heru menjelaskan, secara umum awareness masyarakat terhadap BPJS Kesehatan sudah tinggi, terutama dari responden pekerja formal. Televisi menjadi sumber pengetahuan tertinggi bagi awareness responden terhadap iklan. Sementara facebook, you tube,  dan twitter menduduki tiga teratas untuk kelompok media sosial.

Efektifitas televisi dan radio untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat menjadi peserta BPJS Kesehatan sangat tinggi, sebab pesan yang disampaikan mudah dicerna.

“Survei ini juga menunjukkan, ketersediaan masyarakat untuk merekomendasikan BPJS Kesehatan kepada orang lain bernilai positif. Akan tetapi, ini masih perlu didorong lagi,” jelas Heru.[D-13/L-8]

sumber : http://sp.beritasatu.com