Awas! Perembes Gula Rafinasi Bakal Diberi Sanksi Lebih Keras

Kamis, 18 Desember 2014 | 08:52


Kementerian Perdagangan berjanji akan semakin memperketat pengawasan terhadap distribusi gula rafinasi pada tahun 2015 mendatang. Mulai tahun depan, industri yang merembeskan gula rafinasi ke pasar gula konsumsi rumah tangga diancam sanksi lebih keras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bukan hanya pengurangan kuota."Kita sudah membuat komitmen dengan industri rafinasi. Kita tanya langsung agar apapun yang keluar nanti izinnya, pastikan tidak ada yang merembes ke pasar gula konsumsi rumah tangga. Kalau sampai itu dilanggar akan kita beri sanksi lebih keras dibanding sebelumnya," tegas Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Partogi Pangaribuan, saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (16/12/2014).


Partogi mengungkapkan, selama ini perembesan ke pasar gula untuk rumah tangga terjadi karena adanya gula rafinasi yang tidak dijual langsung ke industri makanan minuman, melainkan melalui distributor. Distribusi melalui distributor ini sebenarnya ditujukan bagi industri makanan minuman berskala kecil dan menengah, namun sering merembes ke pasar gula konsumsi.


Dalam 2 tahun terakhir, Kemendag telah menjatuhkan sanksi berupa pengurangan kuota impor gula mentah kepada industri gula rafinasi akibat adanya rembesan. Tahun 2012, kuota impor gula mentah dikurangi 180 ribu ton, lalu pada 2013 ada pengurangan 110 ribu ton. "Ada distribusi ke distributor yg kami duga ada rembesan. 2 tahun terakhir Kemendag telah memberi sanksi dengan mengurangi kuota impor gula mentah," tuturnya.


Akibat pemotongan kuota ini, 4 pabrik gula rafinasi pada tahun ini sudah kehabisan gula mentah untuk diolah menjadi gula rafinasi, sehingga berhenti beroperasi untuk sementara. "Karena itu, mereka menyatakan komitmen tidak akan melakukan perembesan lagi," imbuhnya.


Untuk mencegah rembesan, tahun depan distribusi gula rafinasi untuk industri makanan minuman berskala kecil dan menengah tidak akan melalui distributor lagi. Sebagai gantinya, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM akan menunjuk koperasi-koperasi untuk menyalurkan gula rafinasi kepada industri makanan dan minuman berskala kecil menengah. "Ke depan, distribusi dilakukan melalui koperasi dan dikontrol. Kita kerjasama dgn Kemenkop UKM, mereka yang tentukan koperasinya," dia mengungkapkan.


Berdasarkan hasil verifikasi Sucofindo, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan minuman skala kecil dan menengah adalah 400 ribu ton. Jumlah gula yang didistribusikan melalui koperasi dibatasi hanya sebesar itu. Selama ini, gula rafinasi yang didistribusikan melalui distributor mencapai 25 persen dari produksi gula rafinasi, sekitar 700 ribu ton, artinya ada kelebihan sekitar 300 ribu ton. "Jadi kita kontrol masing-masing industri rafinasi untuk IKM tidak lebih dari 15 persen produksinya," pungkasnya.

 

Penulis: MCA
sumber http://www.gatra.com