Spekulan Permainkan Petani Kakao

Senin, 15 September 2014 | 08:16


Sederet masalah merundung produksi dan industri pengolahan kakao Sulsel menyambut Peringatan Hari Kakao Indonesia ke-2 yang dipusatkan di Makassar, hari ini. Meski menjadi komoditas andalan, produksi kakao Sulsel belum sepenuhnya mendominasi suplai kebutuhan industri perkakaoan di Sulsel. Dua persoalan mendasar adalah permainan spekulan dan rendahnya pemahaman petani terkait kualitas dan pola penjualan kakao.

Harga jual kakao di tingkat petani sering dimainkan spekulan. Imbasnya, industri kakao di Sulsel, khususnya di Kawasan Industri Makassar (KIMA), tidak menyerap seluruh produksi kakao Sulsel.

Dari sekitar 150 ribu ton produksi kakao di Sulawesi Selatan, tercatat, baru sekitar 40 persen di antaranya yang terserap oleh industri kakao di Sulsel. "Selebihnya, dijual ke Jawa," jelas Direktur Sucofindo, Bachder Djohan, kemarin. Padahal, nominal produksi tersebut, jika terserap maksimal, cukup untuk memenuhi kebutuhan industri perkakaoan Sulsel.

Mantan Direktur KIMA itu, mengungkapkan, persoalan mendasar yang dihadapi perkakaoan di Sulsel ada di level spekulan. Harga jual kakao yang dibeli oleh spekulan, maupun pedagang, cenderung lebih murah dibandingkan dengan harga jual ke Jawa.
Karena ulah spekulan tersebut, industri-industri kakao di Sulsel kesulitan memenuhi kebutuhan pengolahan kakao.  Industri-industri di KIMA, kata Bachder, seperti Cargill dari Amerika, Barry Callebout dari Swiss, hingga perusahaan BUMN, PT Berdikari (Persero), harus membeli hasil produksi kakao dari daerah lain seperti Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

KAKAO SULSEL

1. Total Lahan Kakao Sulsel 279 ribu hektare
2. Produksi turun dari 170 ribu ton menjadi 154 ribu ton per tahun.
3. Dari total luas lahan, sekira 70 persen pohon kakao sudah tua sehingga direhabilitasi.
4. Proses rehabilitas: penanaman kembali 50 juta pohon dan sambung samping/pucuk 19 juta pohon.
5. Luwu Utara menjadi sentra dengan luas lahan sekira 40 ribu hektare.
(Sumber: Dinas Perkebunan Sulsel)

oleh sbi-fad-iad/ysd-rif
suber http://www.fajar.co.id