Pemerintah Dorong Hilirisasi Industri Rumput Laut

Jumat, 29 Agustus 2014 | 08:33


Kalangan industri diminta memanfaatkan lahan untuk memproduksi rumput laut seluas 1,1 juta hektare yang saat ini baru dimanfaatkan sekitar 20% atau 220.000 ha.Hilirisasi industri rumput laut dinanti guna meningkatkan nilai tambah produk yang bisa menghasilkan 500 hasil olahan.

Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W Restraubun mengatakan  rumput laut merupakan komoditas strategis yang dapat membuka peluang lapangan kerja untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan di pesisir.

“Sudah selayaknya Indonesia menjadi pusat produksi dan industri hasil laut. Khusus untuk pengembangan rumput laut, hilirisasi sangat penting,” katanya, Kamis (28/8).

Karena potensi bahan baku rumput laut yang cukup besar, di dalam Rencana Perindustrian Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), industri rumput laut akan menjadi salah satu prioritas.

Rumput laut akan menjadi andalan masa depan, serta termasuk ke dalam kelompok industri pangan bersama industri pengawetan dan pengolahan hasil laut, industri pengolahan susu, industri pengolahan buah-buahan dan sayuran, industri minuman, industri tepung serta industri gula berbasis tebu.

Wamenperin mengatakan bahwa dalam pembahasan RIPIN dijelaskan tiga tahap pembangunan industri rumput laut untuk jangka waktu 20 tahun ke depan, a.l tahap peningkatan investasi dan utilisasi.

Selanjutnya tahap pengembangan pangan fungsional berbasis industri laut dan  industri pengolahan rumput laut telah menjadi bagian dari industri pangan fungsional dan suplemen serta pure carrageenan beserta turunannya.

Selain RIPIN, Kemenperin sedang mengkaji usulan pemberlakuan Bea Keluar (BK) untuk mendukung ketersediaan bahan baku rumput laut bagi industri dalam negeri, usulan ini masih dalam pembahasan lebih lanjut terutama mengenai kesiapan industri dalam menyerap produksi rumput laut yang besar.

“Insentif fiskal ini berupa pemberian keringanan pajak bagi industri-industri dengan kriterian tertentu, yaitu dengan fasilitas tax holiday bagi investasi baru, amupun tax allowance untuk industri yang sudah ada,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengatakan hilirisasi industri merupakan langkah baik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi perlu dikaji lebih lanjut mengenai kelayakan dan kesiapan skala industrinya.

“Pekerjaan 30 tahun yang sudah dikerjakan jangan sampai jadi mandek, karena hilirisasi yang tidak siap dan dipaksakan. Tidak semua harus diolah, lihat apakah kita ekspor udang itu dimasak dahulu,” tuturnya.

Rumput laut sebagai produk budidaya dan produksinya belum besar, dari produksi 900.000 ton per tahun baru 170.000 ton yang siap ekspor. Merujuk dari sana, rumput laut belum mampu menuju hilirisasi industri.

Dia menambahkan, pemerintah tidak perlu terburu-buru untuk mewujudkan hilirisasi industri rumput laut sebelum menyiapkan kesiapan pendukungnya.

“Sebelum mengaspali jalan, pastikan dulu ada jalan alternatifnya. Jangan membuat petani malah kehilangan pekerjaannya,” tambahnya.

oleh David Eka Issetiabudi
sumber http://industri.bisnis.com