Populasi Renggang Picu Produktivitas Teh Rendah

Senin, 18 Agustus 2014 | 10:46


Produktivitas teh rakyat di Jawa Barat saat ini relatif rendah sehingga memicu daya saing di pasar internasional mengalami penurunan.Koordinator National Reference Group on Tea (NRG) atau Forum Sertifikasi Teh Indonesia (FSTI) Iyus Supriyatna menyatakan produktivitas teh di Jabar relatif rendah dipicu oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap para petani seperti pembinaan dan sentuhan teknologi pada mereka.

Dia menjelaskan saat ini produktivitas petani lokal hanya 1 ton per hektare per tahun, sementara jika dibandingkan dengan petani di Vietnam dan negara Afrika, produktivitasnya sudah mencapai 3-4 ton per ha per tahun.

“Padahal kontribusi perkebunan teh di Jabar mencapai 70% untuk nasional. Jika hal ini tetap dibiarkan maka daya saing di internasional semakin menurun, apalagi dengan Vietnam,” katanya kepada Bisnis, Minggu (17/8).

Sehingga, katanya, apabila petani lokal mampu mengimbangi jumlah produktivitas petani di luar negeri tersebut, maka tidak menutup kemungkinan keuntungan dari produksi teh bisa meningkat 100%.

"Asalkan petani lokal mampu meningkatkan produktivitasnya, maka persaingan pertehan di pasar dunia semakin kompetitif," katanya.

Selain itu, untuk meningkatkan produktivitas pemadatan populasi diperlukan karena saat ini populasi teh di Jabar hanya mencapai 5.000 pohon per ha, sementara Vietnam sudah mencapai 16.000 pohon per ha.

Apalagi, katanya, sejak 10 tahun terakhir luas lahan perkebunan teh di Jabar menyusut hingga 30.000 ha dari total lahan sekitar 100.000 ha. Sehingga pemadatan populasi yang mengakibatkan produktivitas teh menurun harus segera dilakukan agar tidak mengalami gangguan dalam peningkatan hasil tanaman teh.

“Jabar tidak usah dulu mengejar target sama dengan Vietnam, minimal di angka 10.000 pohon per ha sudah bagus. Hal ini menjadi penting dan utama untuk upaya penyelamatan agribisnis teh nasional,” katanya.

Dengan demikian, melalui peningkatan produktivitas dapat menambah devisa negara, yang secara tidak langsung juga ikut mensejahterakan masyarakat setempat.

Adapun soal penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10% yang diterapkan pada produk primer seperti teh akan juga berpengaruh terhadap daya saing.

Dia menjelaskan para petani eksportir pasti enggan menanggung beban biaya PPN tersebut karena akan menambah modal.

“Sebaiknya pemerintah menghapus PPN tersebut karena dinilai sangat merugikan, apalagi sekarang akan menghadapi pasar bebas Asean,” ujarnya.

Dinas Perkebunan Jawa Barat mengakui produksi teh tiap tahun mengalami penurunan akibat menurunnya luas lahan perkebunan serta rendahnya produktivitas teh.

Kasubag Perencanaan Program Disbun Jabar Agus Sutirman mengatakan perkebunan teh Jabar mengalami penyusutan sekitar 1.200 ha/tahun.

"Dalam lima tahun terakhir secara nasional terjadi alih fungsi lahan sekitar 2.000 ha per tahun dan 60% berada di wilayah Jabar," kata Agus.

oleh Adi Ginanjar Maulana, Dimas Waradhitya
sumber http://industri.bisnis.com