Intensifikasi Pertanian: Peran Mikroba Belum Maksimal

Jumat, 08 Agustus 2014 | 10:27


Peran mikroba sebagai sarana penunjang intensifikasi lahan pertanian belum dimanfaatkan maksimal, padahal makhluk berukuran mikroskopis itu bisa menggandakan nilai ekonomi lahan.Peneliti bioteknologi Anton Muhibuddin menguraikan potensi mikroba di Indonesia yang sudah masuk ranah industrialisasi baru 30%. Sedangkan sisanya belum tersentuh untuk dikembangkan.

"Indonesia memiliki keragaman hayati melimpah, termasuk di dalamnya mikroba yang meliputi jamur. Tapi memang tak semua termanfaatkan," jelasnya di sela-sela seminar soal peran mikroba dalam intensifikasi pertanian di Surabaya, Kamis (7/8/2014).

Anton mengilustrasikan penelitian mendapati mycorrhizae merupakan salah satu mikroba yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dalam sistem pemulihan lahan, mycorrhizae menyerap racun di lahan-lahan kritis dan membantu tanaman menyerap unsur hara.

Sifat itu, lanjut dia, bisa mempercepat penghilangan racun mangan, aluminium maupun tembaga di bekas-bekas tambang.

Bila pemulihan lahan biasa memerlukan waktu 30 tahun maka dengan mikroba tersebut hanya perlu 3 tahun.

Mikroba jenis ini bekerja efektif pada akar tanaman, salah satunya yang bisa digunakan adalah mimba (Azadirachta indica A. Juss).

Saat berkembang di akar tanaman, mycorrhizae juga mengurangi konsumsi fosfor sebagai pupuk hingga 70%.

“Bila mycorrhizae digunakan di seluruh Indonesia, penghematan dari pupuk saja bisa Rp200 triliun,” jelas pria yang juga dosen di Universitas Brawijaya dan mengajar tentang mikroba di lima negara Asia lain.

Anton menambahkan penggunaan mikroba berbentuk jamur juga bisa memberdayakan masyarakat, setidaknya telah terbukti di sejumlah lokasi di Jombang.

Sampah organik rumah tangga dengan bantuan mikroba fermentasi bisa menghasilkan bioetanol dengan kadar kemurnian 70%-80%.

Proyek percontohan di Kecamatan Tambakrejo yang sudah berjalan menghasilkan 50 liter bioetanol setiap proses.

Hasil itu didapat setelah sisa makanan mengandung selulosa seperti sawi dicacah dan difermentasi selama 2 pekan.

“Potensi ekonomi dari pengolahan sampah hingga menghasilkan bioetanol di Jombang saja bisa Rp8 triliun. Itu menghitung semua lini, termasuk efisiensi penanganan sampah,” paparnya.

Menurutnya mikroba juga bisa dijadikan pestisida dan peran-peran lain dalam peningkatan sektor pertanian. Oleh karena itu, daerah di Jawa Timur seperti di Pasuruan kini mulai dijadikan percontohan pemanfaatan mikroba ini.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Timur Priyo Darmawan menilai pengembangan mikroba untuk menunjang pertanian bisa jadi tumpuan masa depan pertanian.

Terlebih fakta menunjukkan tanaman di Indonesia cenderung produktivitasnya rendah.

“Kalau ternyata mikroba sebagai bagian bioteknologi bisa dimanfaatkan dan diadopsi utamanya yang dikembangkan di Indonesia maka kesempatan memacu pertanian semakin besar,” tegasnya.

oleh Miftahul Ulum 
sumber http://industri.bisnis.com