Pembibitan Sapi Rancah Terhambat Penurunan Mutu

Rabu, 26 Maret 2014 | 10:55


Upaya pemerintah Jawa Barat menjadikan sapi rancah Kabupaten Ciamis sebagai ikon sapi kawasan itu masih menemukan kendala, salah satunya penurunan berat badan.


Kepala Seksi Produksi Peternakan pada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Ciamis Debi Drahmawan mengatakan satu ekor sapi rancah normal hingga pada 1990 bisa menghasilkan daging karkas 500-700 kilogram.

Namun saat ini satu ekor sapi hanya mampu menghasilkan antara 200-300 kg daging karkas.

Penurunan ukuran sapi pancah akibat penurunan kualitas genetik, karena kawin sedarah. Itu juga terjadi karena populasi sapi rancah sangat sedikit.

"Pada saat itu perhatian peternak masih fokus pada sapi impor yang digulirkan pemerintah,” kata Debi, Selasa (25/3/2014).

Dia menambahkan untuk peningkatan produksi daging, sapi rancah sangat memungkinkan bila diperbaiki genetiknya.

Selain itu, interval musim kawin sapi sangat cepat bisa mencapai 2-5 bulan pascamelahirkan.

Karkas sapi rancah bisa menghasilkan lebih 50% dari berat sapi hidup sedangkan sapi impor menghasilkan karkas di bawah 50% berat hidup.

"Ini akan menguntungkan bagi para peternak juga membantu menambah suplai kebutuhan daging sapi nasional,” ungkapnya.

Kendala saat ini, ungkap Debi, untuk mengembalikan kualitas genetik cukup lambat bisa mencapai 25 tahun.

Upaya yang dilakukan, saat ini pihaknya tengah melakukan pelestarain plasma nutpah tahap pertama bagi 30 ekor sapi.

Diharapkan dari 30 ekor tersebut dapat menghasilkan bibit sapi rancah dengan kualitas genetik membaik.

"Setelah itu baru akan disebar kepada masyarakat dan diternak sacara massif."

Dia menyebutkan saat ini ternak sapi rancah di tingkat peternak masih dilakukan secara tradisional serta penambahan populasi masih terbatas.

"Kami mencatat jumlah sapi rancah saat ini mencapai sekitar 300 ekor,” katanya.

oleh Adi Ginanjar Maulana 
sumber http://industri.bisnis.com