Pengendalian Tembakau AMTI Tolak Aksesi

Rabu, 19 Februari 2014 | 13:18


Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyatakan menolak secara tegas rencana pemerintah untuk mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) lantaran aturannya dinilai sangat eksesif dan mematikan industri rokok nasional.

Ketua Umum AMTI Soedaryanto mengatakan bahwa rencana aksesi konvensi pengendalian  tembakau itu juga bertentangan dengan beberapa Undang-undang di Indonesia.

Salah satunya Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP 109/2012) yang disahkan pada Desember 2012 

“PP 109/2012 itu merupakan titik temu antara dua kepentingan, yaitu kesehatan dan industri. AMTI dan anggotanya selama ini berkomitmen untuk menerapkannya demi menghormati kepentingan bersama, sekaligus menghormati produk hukum Indonesia yang dicapai melalui musyawarah mufakat selama tiga tahun,” jelas Soedaryanto kepada Bisnis, Selasa (18/2/2014).

Di tengah persiapan industri, katanya, justru Kementerian Kesehatan sibuk mendorong aksesi FCTC sebagai prioritas melalui Peraturan Menteri Kesehatan No 40 Tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan. “Padahal PP 109/2012 belum seluruhnya dilaksanakan,” imbuhnya.

Adapun pedoman FCTC yang dinilai eksesif oleh AMTI antara lain, larangan penggunaan perasa (flavor) termasuk penggunaan cengkeh, penerapan kemasan polos (plain packaging) dan kegiatan CSR industri tembakau, membatasi interaksi pemerintah dengan industri tembakau, serta larangan iklan, promosi, sponsor hingga display produk di toko-toko.

“Jika diimplementasikan , tentu akan mengancam keberlangsungan hidup petani cengkeh, apalagi 90% hasil produksi cengkeh diserap oleh industri tembakau nasional,” jelas Soedaryanto.

Dia menambahkan pedoman FCTC tersebut dianggap tidak mampu mencapai tujuan kesejahteraan masyarakat, bahkan membahayakan mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada sektor tembakau.

“Pedoman itu akan berdampak negatif terhadap perekonomian negara, baik dari segi pendapatan negara melalui cukai, maupun penyerapan tenaga kerja,” imbuhnya.

Penolakan terhadap aksesi FCTC tersebut juga akan dinyatakan dalam perayaan HUT AMTI ke-4 di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, hari ini Rabu (19/2/2014). Rencananya, dalam perayaan itu akan dihadiri oleh seluruh elemen AMTI, seperti Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), Pemuda Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (Pemuda HKTI), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Forum Pekerja (FKPBRTI).

oleh Peni Widarti
sumber http://industri.bisnis.com