Pemerintah masih Tunggu Hasil Uji Laboratorium Beras Impor

Senin, 03 Februari 2014 | 09:09


Pemerintah menyatakan belum dapat menjatuhkan sanksi terkait indikasi penyelewengan yang dilakukan importir terkait membanjirnya beras impor jenis medium asal Vietnam di pasar domestik. Sebab, masih menunggu hasil uji laboratorium. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sebelumnya menyatakan telah melakukan investigasi atas masuknya beras impor medium di pasar dalam negeri. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Bachrul Chairi, menyebut tiga importir nakal yang melakukan aksi yang merugikan para petani di tanah air. Jumlah pelanggar ini bahkan berkemungkinan bertambah.

Tetapi, Direktur Impor Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Didi Sumedi mengatakan, pihaknya masih akan melakukan uji laboratorium terlebih dahulu. Pemeriksaan klinis ini dilakukan untuk membuktikan jenis klasifikasi varietas beras tersebut.

"Kementerian Perdagangan sudah melakukan investigasi terkait dugaan beredarnya beras medium asal Vietnam dengan melakukan pengambilan sampel dan sedang melakukan pemeriksaan laboratorium atas sampel temuan beras tersebut untuk membuktikan jenis klasifikasi varietas beras temuan dimaksud," ujar Didi dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia Minggu (2/2).

Apabila hasil uji laboratorium ditemukan adanya tindak pelanggaran yang dilakukan oleh importir terkait SPI (surat persetujuan import) untuk beras konsumsi khusus, kata dia, maka akan diberikan sanksi. Namun, Didi tidak menyebutkan bentuk hukuman. "Kita menjatuhkan sanksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku," tandas dia.

Permasalahan bermula dari laporan berkelimpahannya pasokan beras jenis medium asal Vietnam dari pedagangan di pasar Cipinang, Jakarta. Padahal, Perum Bulog yang memiliki hak tunggal melakukan impor beras berpatahan 5-25% itu sesuai aturan Permendag Nomor 06/M-DAG/PER/2012, menyatakan tidak melakukan impor.

Direktorat Jendral Bea dan Cukai Kementerian Keuangan akses masuknya melalui izin impor beras khusus yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan kepada para importir. Importir melakukan aksi penyelewengan karena memanfaatkan celah kesamaan HS (harmonized syatem) antara beras khusus dengan umum pada Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BLTI) tahun 2012 yakni 1006.30.99.00. Adapun jenis beras khusus yang seharusnya diimpor oleh importir antara lain jenis Japonica dan beras Basmati.

Didi menambahkan, Kemendag juga melakukan penghitungan jumlah beras khusus yang beredar di pasar lokal. Realisasi impor beras khusus itu masih dibawah kuota.

Sesuai laporan Surveyor (KSO Sucofindo-Surveyor Indonesia), beras impor jenis Japonica hanya mencapai 13.623 ton, setara 90,83% dari kuota impor sebesar 14.997 ton. Sementara beras impor jenis Basmati sebanyak 1.524 ton, 83,05% dari kuota 1.835 ton. (Daniel Wesly Rudolf)


sumber http://www.metrotvnews.com