WWF Pantau Kebijakan Hutan Lestari APRIL

Kamis, 30 Januari 2014 | 09:30


Organisasi lingkungan World Wild Fund (WWF) mendukung kebijakan pengelolaan hutan lestari yang dikeluarkan oleh Asia Pacific Resources International Ltd (APRIL) termasuk di dalamnya komitmen perusahaan untuk mendukung konservasi kawasan hutan di Riau dan daerah Sumatra lainnya, yang merupakan standar baru bagi industri pulp dan kertas di Indonesia. Efransjah, CEO WWF-Indonesia, mengatakan WWF sudah  lama berkampanye menyerukan penghentian eksploitasi lingkungan terkait industri pulp dan kertas. Kebijakan pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management Policy/SFMP) yang diumumkan APRIL dinilai menunjukan kemauan dari perusahaan tersebut untuk mentransformasi cara  beroperasinya.

 “Jika APRIL benar-benar memenuhi seluruh komitmennya, kebijakan ini akan memberikan kontribusi positif bagi hutan, keanekaragaman hayati, pengurangan emisi dan masyarakat di Indonesia,” katanya dalam keterangan resmi kepada Bisnis.com, Rabu (29/1).

Sebelumnya, APRIL yang mengoperasikan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) mengumumkan kebijakan baru untuk menaikkan level komitmen pengelolaan hutan lestari. Komitmen ini dilakukan di Jakarta pada Selasa (28/1) yang disaksikan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dan sejumlah organisasi lingkungan.

Dengan kebijakan baru ini, mulai saat ini APRIL akan melaksanakan moratorium pembukaan lahan konsesi yang belum dikaji secara independen nilai-nilai konservasinya. Perusahaan ini bersama dengan para mitra pemasoknya akan menyelesaikan pembukaan HTI-nya pada akhir tahun 2014, dan akan mendukung sebuah studi percontohan untuk membantu mengembangkan metode bagi industri tersebut dalam mengevaluasi dan melindungi kawasan hutan dan lahan gambut yang mengandung cadangan karbon tinggi (high carbon stock/HCS).

Akan tetapi, kebijakan ini masih memperbolehkan APRIL memanfaatkan kayu dari hutan tropis untuk bahan baku pabriknya hingga akhir tahun 2019. WWF mendesak APRIL untuk 100% menggunakan bahan baku serat pulp dari hutan tanaman bagi pabriknya. WWF juga mengingatkan bahwa tanpa adanya proses dan pemantauan independen yang kuat, akan tetap ada celah bagi masuknya bahan baku dari hutan bernilai konservasi dan karbon tinggi ke dalam pabriknya.

Pantau Bersama
Meskipun WWF menyambut dilakukannya studi cadangan karbon , APRIL harus melibatkan semua pihak/stakeholder yang relevan, dan menerapkan prinsip kehati-hatian dan melindungi semua kawasan yang kemungkinan memiliki cadangan karbon tinggi (HCS) sampai ada standar industri yang resmi ditetapkan sebagai acuan.

“WWF juga menghargai komitmen APRIL dengan membentuk Stakeholders Advisory Committee (SAC) dan menyambut undangan APRIL untuk menjadi bagian dari komite ini. WWF berharap SAC menjadi  komite yang kredibel dan kelompok yang independen untuk terus mengajak perusahaan menguatkan dan mengimplementasikan kebijakannya secara efektif.”

Menanggapi rencana APRIL terhadap persyaratan yang ditetapkan dalam milestones oleh Environmental Paper Network (EPN), WWF menyambut komitmen APRIL untuk mendukung perlindungan kawasan konservasi hutan  yang sama luasnya dengan HTInya. “Komitmen ini memperkenalkan sebuah bab baru dalam  industri kertas Indonesia yang bergerak menuju kelestarian, dan  seharusnya diikuti oleh perusahaan lainnya,” kata Aditya Bayunanda, Forest Market Transformation Leader, WWF-Indonesia.

“WWF menyerukan kepada para pembeli pulp dan kertas untuk mendalami dengan baik setiap hasil dari pemantauan independen dan kajian lembaga masyarakat madani (civil society) sebagai bukti APRIL menepati janjinya," ujarnya

WWF juga mengajak masyarakat madani di Indonesia dan dunia untuk melakukan pemantauan dan pelaporan intensif terhadap semua komitmen APRIL.

WWF juga bergabung dengan World Business Council for Sustainable Development dan lembaga lainnya, untuk mendesak pemilik APRIL, dan grup perusahaanya Royal Golden Eagle (RGE) agar menerapkan kebijakan serupa terhadap bisnis lain yang berhubungan dengan pulp dan kertas, serta industri lainnya yang terkait erat dengan tingginya deforestasi.

oleh Asep Dadan Muhanda 
sumber http://industri.bisnis.com