Hatta Rajasa: Industri Kayu Hutan Tanaman Siap Hadapi MEA 2015

Jumat, 24 Januari 2014 | 15:36


Pemerintah menilai industri kayu berbasis hutan tanaman di Tanah Air siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan berlaku mulai 2015.Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Kabupaten Serang, Banten, Selasa (21/1)menyatakan industri berbasis hutan tanaman, khususnya dengan model kemitraan justru akan menjadi kekuatan Indonesia dalam menghadapi MEA mendatang.

"Kita memiliki keunggulan komparatif (dalam industri berbasis hutan tanaman). Oleh karena itu Indonesia akan jadi basis produksi," katanya ketika melakukan peninjauan industri kayu PT Pundi Uniwood Industry bersama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

Oleh karena itu, tambahnya, ke depan pemerintah akan mendorong pengembangan industri kayu berbasis hutan tanaman dengan model kemitraan.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan, saat ini merupakan era pengembangan industri kayu berbasis hutan tanaman, hal itu terlihat dari trend bergeseran sumber bahan baku.

Selama delapan tahun terakhir (2005-2013), lanjutnya, pemenuhan bahan baku dari hutan alam untuk industri kayu berkapasitas produksi di 6000 meter kubik per tahun cenderung turun yakni dari 20,5 juta meter kubik pada 2005 menjadi 5,54 juta meter kubik pada 2013.

Di sisi lain, menurut Zulkifli, pemenuhan bahan baku dari hutan tanaman memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan, yakni sebesar 11,2 juta meter kubik pada 2005 menjadi 39,80 juta meter kubik pada 2013.

"Hutan tanaman ke depan akan menjadi basis dan tulang punggung industri perkayuan nasional," katanya.

Seiring dengan pergeseran sumber bahan baku dari kayu hutan alam menjadi kayu hutan tanama, lanjutnya, jumlah industri kehutanan semakin meningkat.

Menhut menyatakan, sampai 2013 jumlah industri primer hasil hutan kayu kapasitas produksi di atas 6.000 meter kubik per tahun sebanyak 375 unit dengan penyerapan tenaga kerja 282.878 orang serta nilai investasi Rp54,9 triliun.

Direktur PT Pundi Uniwood Industry, Jusak Sudarso menyatakan, saat ini pihaknya telah melakukan pengembangan hutan tanaman seluas 1.900 hektar melalui model kemitraan dengan petani di wilayah Kabupaten Lebak, Serang dan Pandeglang.

Menurut dia, sebanyak 30 kelompok tani telah menjadi mitra yang mana setiap kelompok terdiri sekitar 20-30 orang, yang mana mereka mendapatkan bibit sengon ataupun jabon untuk ditanam di lahan mereka.

"Kami akan membeli kayu hasil tanaman mereka setelah jangka waktu lima tahun dengan harga pasar sesuai saat pembelian untuk memenuhi bahan baku industri," katanya.

Jusak menyatakan, sejak 2011 hingga saat ini pihaknya telah menanam sebanyak 1,5 juta pohon untuk memenuhi industri kayu berkapasitas 100 ribu meter kubik per tahun it.

Pihaknya memproduksi plywood, barecore dan blockboard untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun luar negeri antara lain China, Taiwan, Singapura dan Korea. (Antara)

oleh Bambang Supriyanto
sumber http://industri.bisnis.com/