Musim Hujan, Produksi Bawang Merah Masih Stabil

Rabu, 15 Januari 2014 | 14:36


Produksi bawang merah secara nasional pada awal 2014 diprediksi tetap stabil kendati curah hujan mulai meningkat dan berisiko mempengaruhi tanaman.Sekretaris Dewan Bawang Merah Nasional Mudatsir mengatakan produktivitas sepanjang akhir 2013, yang juga mengalami musim hujan, mencapai 9-10 ton per hektare. Angka tersebut merupakan kondisi normal saat musim hujan.

“Sejak akhir tahun lalu hingga Januari ini produksi masih stabil. Para petani sepertinya tidak terlalu was-was dengan curah hujan tinggi seperti saat ini,” kata Mudatsir kepada Bisnis, Selasa (14/1/2014).

Dia menambahkan sudah panen bisa terjadi sepanjang tahun.Beberapa daerah sentra bawang merah secara bergantian mengalami panen, misalnya ketika di Brebes stok mulai berkurang, Jawa Timur memasuki masa panen.

Di samping itu, lanjutnya, para petani juga telah belajar untuk menangkal serangan hama di musim penghujan. Caranya dengan mengurangi pemakaian urea dan pengurangan pupuk nitrogen.

Pihaknya berharap harga bawang merah sepanjang tahun ini tidak lagi mengalami lonjakan seperti 2013. Meskipun mendapatkan keuntungan lebih, petani justru bisa mengalami kerugian dalam jangka panjang.

Mudatsir mengungkapkan kenaikan harga jual terjadi karena stok menipis. Selain itu, ketika musim tanam harga bibit akan naik mengikuti harga jual di pasaran. Petani akhirnya tidak menikmati keuntungan dari penjualan hasil panen.

“Jika panen bisa terus stabil sepanjang tahun harga tidak sampai seperti tahun lalu yang mencapai Rp50.000 per kilogram. Maksimal Rp30.000 per kilogram,” ujarnya.

Pemerintah diharapkan tidak terburu-buru membuka keran impor bawang ketika terjadi kenaikan harga. Seluruh sentra penghasil bawang merah nasional harus dipantau hasil produksinya terlebih dahulu.

Kasus yang terjadi saat ini, imbuhnya, ada daerah yang panen, tetapi pengusaha tetap merealisasikan izin impornya. Kebanyakan importir mendatangkan bawang merah pada akhir periode hanya untuk memenuhi target realisasi sebanyak 80% dari Surat Persetujuan Impor (SPI).

“Kemendag harus bisa mengantisipasi hingga 5 bulan ke depan apakah ada daerah yang panen. Kalau kran impor tetap dibuka, harga bisa turun,” keluhnya.

oleh Rio Sandy Pradana
sumber http://industri.bisnis.com