Kinerja Industri Perikanan Tuna Menurun

Senin, 23 Desember 2013 | 10:04


Menurunnya jumlah tangkapan dan mengecilnya ukuran ikan tuna mengkhawatirkan pelaku usaha perikanan tuna.Untuk itu, Komisi Tuna Indonesia mengusulkan lima aksi yang harus dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan sektor ini.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Gelwynn Jusuf mengatakan perikanan tuna saat ini menghadapi sejumlah tantangan.

Tantangan tersebut a.l. menurunnya produktivitas, ukuran yang cenderung mengecil, daerah penangkapan ikan yang cenderung ke laut lepas, dan maraknya penangkapan tuna dengan menggunakan rumpon dikombinasikan dengan lampu.

"Upaya penangkapan juga meningkat. Tetapi kita diuntungkan karena perairan Indonesia merupakan spawning ground dari yellowfin tuna dan bigeye tuna," ujarnya dalam Workshop on Tuna Fisheries Outlook 2014, Jumat (20/12).

Indonesia merupakan salah satu negara produsen tuna terbesar di dunia dengan total produksi 613.575 ton/tahun dan nilai sebesar Rp6,3 triliun.

Selain tantangan tersebut, Ketua Komisi Tuna Indonesia Martani Huseini mengatakan industri harus meningkatkan daya saing agar dapat memenangkan pasar yang makin ketat dan menuntut produk yang ramah lingkungan.

Untuk meningkatkan daya saing perdagangan perikanan tuna dan mengantisipasi keberlanjutan stok sumber daya tuna Indonesia, Komisi Tuna Indonesia mengusulkan lima aksi yang harus segera dilakukan oleh pemerintah.

Pertama, segera menyempurnakan draft dan merealisasikan Rencana Pengelolaan Tuna Indonesia (RPP Tuna) sebagai pedoman besama pengelolaan tuna di Indonesia.

Kedua, mengelola pusat data (database) perikanan bagi dunia usaha dan penerapan log book pada setiap kapal penangkap tuna. Ketiga, mengatur dan mengendalikan alat tangkap Purse Seine.

"Kapal purse seine saat ini marak digunakan sebagai strategi penangkapan tuna yang semakin langka di alam," kata Martani.

Keempat, menentukan alokasi izin penangkapan berdasarkan data dan informasi ilmiah.

Kelima, meningkatkan peran Indonesia dalam Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs) melalui restrukturisasi organisasi.


oleh Ana Noviani 
sumber http://industri.bisnis.com