Potensi Industri Pengalengan Ikan Masih Besar

Kamis, 28 November 2013 | 12:47


Pengusaha lokal hanya sanggup memenuhi 45% dari permintaan pasar perikanan kaleng domestik sebesar 350.000 ton/tahun. Padahal, setiap tahun konsumsi ikan di dalam negeri terus meningkat.

"Kita tidak pernah mencapai produktivitas yang optimal, padahal punya bahan baku paling ideal,” kata Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ikan Kaleng (APIKI) Ady Surya, Rabu (27/11/2013).

Dia menambahkan potensi ekspor ikan kaleng juga meningkat secara konstan. Pasar yang saat ini tersedia adalah Jepang yang menyerap 17%, disusul Arab Saudi dengan 15%, dan AS yaitu 14%.

Singkatnya, kata Ady, industri perikanan kaleng adalah sektor perikanan masih sangat potensial.

BPS mencatat, Indonesia mengekspor 72.184 ton ikan kaleng senilai lebih dari US$351 juta pada 2012.

Tahun ini, APIKI memprediksi angka itu akan naik menjadi 87.734 ton dengan nilai US$449 juta seiring
dengan kenaikan volume ekspor sektor perikanan dan tingkat konsumsi ikan secara global.

Ady menjelaskan nilai ekspor tersebut seharusnya bisa jauh lebih besar karena tipikal pasar ekspor yang akan menyerap berapapun produksi yang sanggup dihasilkan oleh pengusaha ikan kaleng Indonesia. 


Dia juga menambahkan, bahan baku ikan dari Indonesia adalah salah satu yang terbaik dan paling beragam jenisnya dan ini tidak hanya berlaku untuk industri perikanan kaleng tapi juga industri perikanan secara umum.

Namun, keluhnya, pelaku industri perikanan kaleng lokal masih dibelit oleh persoalan ongkos transportasi yang mahal. "Industri perikanan Indonesia tidak akan berkembang jika soal ini tidak
segera dipecahkan."

Ady menggambarkan berapa biaya transportasi yang harus ditanggung oleh pengusaha.

“Dari Jakarta ke Singapura Cuma US$350/kontainer, kalau dari Jakarta ke Bitung US$600/kontainer. Hampir dua kali lipat kan?” tuturnya.  (ra)
oleh Arys Aditya
sumber http://industri.bisnis.com