Harga Anjlok, Petani Rotan Menjerit

Jumat, 22 November 2013 | 08:31


Dua tahun setelah penutupan keran ekspor rotan, industri hulu menjerit lantaran rendahnya harga di tingkat petani pengumpul. Di sisi lain, nilai ekspor produk rotan justru melorot 12%.Ketua Perkumpulan Petani Rotan Katingan Sarwepin menuturkan saat ini harga rotan berada di level yang sangat rendah. Rotan jenis Irit hanya dihargai Rp1.000/kg, sedangkan jenis sigi harganya Rp1.200/kg.

"Dengan tingkat harga itu, masyarakat enggan menanam dan memanen rotan. Paling tidak harga rotan itu setara 1 kg beras yang harganya Rp8.000-12.000/kg," ujar Sarwepin dalam seminar nasional Kebangkitan Rotan Indonesia, Kamis (21/11/2013).

Menurut Sarwepin, lesunya penanaman dan pemanenan rotan di Katingan berawal sejak pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan No.35/2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan yang terbit pada 30 November 2011. Kebijakan tersebut menekan permintaan rotan mentah dan setengah jadi yang kini hanya bergantung pada pasar domestik.

"Industri domestik itu hanya menyerap 20%-30% dari total produksi, lantas ke mana 70% lainnya? Penutupan ekspor itu memicu penyelundupan, karena rotannya tidak ada di sini," katanya.

Tingkat harga rotan yang rendah juga terjadi di Kabupaten Kutai Barat. Sekretaris Kadishut Kutai Barat C. Benny mengatakan harga rotan jenis pulut merah di tingkat petani sangat rendah, yakni Rp2.000-3.500/Kg.

"Karena harga yang rendah terjadai penurunan produksi yang cukup signifikan, lebih dari 50%. Pada 2012 itu produksinya 416.288 ton, 2013 ini sampai Oktober hanya 174.942 ton," tuturnya.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor produk rotan sepanjang Januari-Oktober 2013 mencapai US$152,14 juta. Nilai tersebut turub 12% dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu.

oleh Ana Noviani
sumber http://industri.bisnis.com