Indonesia Gempur Pasar Ikan Kaleng di Afrika & Timur Tengah

Jumat, 01 November 2013 | 08:55


Produk olahan ikan asal Indonesia mulai mendapat tempat di pasar Afrika dan Timur Tengah. Untuk itu, pemerintah termotivasi untuk mendorong pelaku usaha dan UKM melakukan sertifikasi halal atas produk unggulannya. Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Saut P. Hutagalung menuturkan saat ini permintaan produk ikan kaleng dari beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah mulai meningkat.

"Memang sekarang ini permintaan dari Afrika dan Timur Tengah semakin banyak, dan mereka minta sertifikat halal, misalnya produk-produk ikan kaleng," ujarnya ketika ditemui Bisnis di sela Indonesia Seafood Expo 2013, Rabu (30/10/2013).

Saut memaparkan ikan kaleng Indonesia sudah masuk ke pasar Angola, Mozambik, Ghana, Algeria, dan Nigeria. Produk perikanan olahan yang tahan lama potensial untuk dipasarkan ke kawasan tersebut mengingat keterbatasan infrastruktur dan cold storage yang dimiliki negara-negara tersebut.

"Jangan sampai nanti Thailand yang dapat pasar itu, kita malah tidak. Jadi, dua tahun ini kita kerjasama dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk sertifikasi ekspor yang berorientasi pasar Afrika dan  Timur Tengah," tuturnya.

Untuk memanfaatkan potensi pasar tersebut, KKP mendorong agar produsen-produsen olahan perikanan berskala kecil mengurus sertifikasi halal. Terlebih, sertifikat tersebut juga penting agar produk UKM diterima di pasar domestik.

"Sertifikasi kan butuh biaya, kita akan dorong agar UKM tidak perlu bayar, tetapi biayanya dipikul Pemda," kata Saut.

Meski volume ekspor produk perikanan olahan ke Afrika dan Timur Tengah masih relatif kecil, namun pasar tersebut dinilai potensial. "Tadinya, pasar ini belum pernah kita jamah. Sekarang ekspornya lumayan lah sekitar 8-10 kontainer, terutama ikan sarden kalengan," ungkapnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan mengakui pasar Afrika potensial untuk pemasaran ikan dalam kaleng, yakni sardin/mackarel dan tuna.

"Memang Afrika pasar yang potensial. Nanti kalau pasar sudah besar, kita bisa ekspansi pabrik di sana," ujar Thomas.

Namun, Thomas menyayangkan utilisasi pabrik pengalengan ikan yang baru 60% atau belum optimal lantaran fluktuasi bahan baku yang tergantung cuaca dan iklim.

oleh Ana Noviani
sumber http://industri.bisnis.com/