Kemandirian Pangan Mendesak Diwujudkan

Rabu, 30 Oktober 2013 | 10:02


Kemandirian pangan di Indonesia, termasuk daging harus segera diwujudkan di tengah-tengah kondisi ekonomi dunia yang kurang menguntungkan."Hari Pangan Sedunia yang rencananya diperingati di Padang Sumatra Barat pada 31 Oktober akan menjadi momentum bagi seluruh institusi pemerintah untuk mendukung program kemandirian pangan di Indonesia," kata Syukur Iwantoro, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Selasa (29/10)

Syukur yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana Hari Pangan Sedunia itu menjelaskan pentingnya kemandirian pangan di Indonesia,  mengingat akhir-akhir ini masih terjadi kelaparan yang menimpa jutaan orang di dunia, anomali cuaca yang mengakibatkan gagal panen, harga pangan dunia meningkat, serta gejolak ekonomi di sejumlah negara.

"Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization of The United Nations/ FAO) juga telah meminta sejumlah negera termasuk Indonesia untuk segera mewujudkan kemandirian pangan dengan mengurangi ketergantungan kepada impor," ungkap Syukur.

Terkait hal itu, Syukur mengatakan topik Hari Pangan Sedunia di Padang Sumatra Barat adalah Optimalisasi Sumber Daya Lokal Melalui Diversivikasi Pangan Menuju Kemandirian Pangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat. Itu berarti perlunya Indonesia mengoptimalkan sumber daya lokal dan membatasi ketergantungan impor.

Untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, misalnya masyarakat Indonesia masih bergantung kepada beras/ nasi sehingga untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri terpaksa pemerintah harus impor, padahal sumber karbohidrat bisa juga diperoleh dari jagung, ubi, singkong, sagu yang disejumlah daerah produksinya berlimpah, ungkap Syukur.

Syukur mengatakan, beralihnya konsumsi pangan ke beras ini tidak lepas dari kebijakan pangan dahulu padahal di sejumlah daerah masih banyak yang mengkonsumsi non beras, seperti masyarakat Madura pada zaman dulu justru mengkonsumsi jagung sebagai sumber kabohidrat, tetapi kini mereka justru beralih mengkonsumsi beras.

Begitu juga dengan sumber protein yang berasal dari daging tolak ukur kemandirian bukan hanya daging sapi, tetapi juga sumber lainnya seperti kambing/ domba, ayam, kelinci, ikan, dan telur, bahkan kalau indikator tersebut yang dipergunakan sebenarnya Indonesia sudah mampu.

"Bahkan sebenarnya daging ayam tergolong daging putih sumber protein olebih baik dibandingkan sapi yang tergolong daging merah, bahkan telor merupakan seumber protein yang paling sempurna dibandingkan daging pada umumnya, serta ikan merupakan sumber protein yang dilengkapi omega 3 sangat bermanfaat bagi tubuh," ungkap Syukur.

Dia mengungkapkan konsumsi daging sapi yang begitu besar justru menguntungkan bagi negara tetangga Australia, karena 60% pasarnya di Indonesia, sehingga melalui peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) kita ingin mengingatkan untuk memulai program diversivikasi baik itu untuk sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah-buahan.

Dia juga mengatakan, peringatan HPS juga menjadi momentum untuk memperlihatkan unjuk kerja apa saja yang sudah dihasilkan selama ini mulai dari teknologi pertanian, jambore varietas tanaman seperti melon, semangka, dan timun.

Kegiatan ini juga akan menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat yang berprestasi dibidang pangan dengan memberdayakan tanaman lokal, aktivis pangan, serta dihadiri juga Presiden dan Ibu Negara, serta 16 menteri, yang jelas kita ingin menyampaikan arah visi pangan dunia serta memperlihatkan kemajuan teknologi dibidang pangan, papar Syukur.

Syukur juga menyampaikan dalam HPS nantinya juga akan ada kesepakatan-kesepakatan dengan sejumlah institusi keuangan seperti perbankan dan asuransi, bahkan ada empat perusahaan asuransi yang akan memberikan jaminan perlindungan kepada sapi.

Bahkan untuk asuransi minat peternak untuk mengasuransikan sapi sangat tinggi, saat ini tercatat 270 ekor ternak yang diasuransikan, serta masih antri sekitar 600 ekor lagi.

"Biasanya sapi diasuransikan melalui koperasi, untuk sapi perah premi sebesar Rp300.000 dengan nilai pertanggungan Rp15 juta, sedangkan untuk sapi potong premi Rp200.000 dengan nilai pertanggungan Rp10 juta, pembayarannya biasanya melalui susu yang dihasilkan," ujar Syukur.

Syukur mengatakan dengan masuknya asuransi di ternak sapi, menunjukkan investasi di sektor ini memiliki resiko yang sangat kecil karena di Indonesia tidak mengenal penyakit kuku dan mulut, sapi gila, dan penyakit ternak berbahaya lainnya yang pada akhirnya akan menarik lembaga pembiayaan lainnya untuk masuk ke sektor ini.

Syukur menjelaskan kalau mengacu kepada data Susenas sebenarnya konsumsi daging sapi di Indonesia sudah mencukupi, asal kita jangan berpegang pada data 16% dari total penduduk Indonesia (225 juta), karena tidak semua masyarakat Indonesia mengkonsumsi daging sapi, hanya sekitar 35 juta per tahun, sisanya dari sumber protein hewani lainnya.

"Kalau berpegang pada total penduduk Indonesia maka konsumsi daging sapi hanya 2,1 kilogram/ kapita/ tahun, sedangkan kalau menggunakan angka riel maka konsumsi sapi 12 kilogram/ kapita/ tahun, hampir 70% penduduk Indonesia mengkonsumsi protein dari ayam dan telur atau sebesar 9 kilogram/ kapita/ tahun, belum termasuk konsumsi kambing, kelinci, dan ikan," tambah Syukur.

Terkait kemandirian daging sapi, Syukur mengatakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian akan mempercepat populasi sapi indukan menjadi 3 sampai 4 kali menjadi 10-11 juta ekor.

Bahkan melalui HPS juga akan ada kesepakatan dengan sejumlah produsen sawit untuk ikut mengembangkan sapi, saat ini di Indonesia tercatat 9 juta hektar lahan sawit, kalau idealnya 1 hektare terdapat 2 ekor ternak sapi, maka sudah ada 18 juta ekor sapi.

"Dengan berternak sapi, produsen sawit memiliki keuntungan mereka mendapatkan pupuk dari kotoran sapi mengurangi biaya produksi sampai 20 persen, sedangkan untuk pakannya didapat dari daun, sedangkan untuk pengembangan sapi biaya terbesar 40% dari pakan," ujarnya.

oleh Bambang Supriyanto
sumber http://industri.bisnis.com/