Dorong Inflasi, Mata Rantai Distribusi Kentang Harus Jelas

Senin, 30 September 2013 | 08:55


Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat mendesak pemerintah membangun mata rantai distribusi tanaman kentang secara serius.Ketua HKTI Jabar Entang Sastraatmadja mengemukakan selama ini pemerintah hanya memprioritaskan tanaman padi dibandingkan dengan kentang sebagai komoditas hortikultura.

Padahal kentang dan tanaman hortikultura lainnya memiliki andil besar terhadap laju inflasi, sebab kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut sangat tinggi dan sama pentingnya dengan tanaman padi.

"Selama ini pemerintah hanya fokus terhadap tanaman padi, tetapi komoditas hortikultura seperti kentang dikesampingkan," katanya, Minggu (29/9/2013).

HKTI menilai perlu dibangun penanganan yang sistematis untuk menggenjot produksi kentang, di mana ketersediaan pasar harus jelas agar minat petani menanam kentang semakin tinggi.

Entang mengatakan selama ini dorongan pemerintah masih belum jelas mengenai arah peningkatan upaya produksi kentang, karena tidak ada sinergitas dengan kebutuhan petani. "Jalur program pemerintah dan kebutuhan petani arahnya berlainan sehingga sulit untuk membangun visi menjadi satu arah tujuan yang sama," katanya.

Menurutnya, secara konkrit penanganannya perlu dibangun secara serius, penyuluh bergerak dengan sigap, dan prioritas pengembangan swasembada pangan harus sama.

Basis Benih

Selama ini Kabupaten Bandung salah satu kawasan terbesar di Jabar sebagai penghasil kentang. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan kawasan ini bukan sekadar daerah penghasil kentang, tapi juga basis pembenihan tingkat nasional.

Tisna berharap pembenihan kentang tidak selalu tergantung pada impor luar negeri. "Para petani kita juga bisa bikin benih kentang granola dan atlantik, kedua jenis benih kentang ini upayakan bisa dibuat di Kabupaten Bandung. Malah kentang kita bisa sampai ke Singapura," katanya.

Pihaknya ingin ke depan swasembada kentang tidak tergantung pada impor sehingga petani diharapkan mampu meningkatkan produksi dan memperlebar peluang pasar yang dapat memacu peningkatan perekonomian masyarakat di Kabupaten Bandung.

Tisna menjelaskan pencapaian produksi kentang pada 2013 mencapai 131.000 ton per tahun dari luas lahan 6.700 ha dengan rata-rata produktivitas 18-20 ton per ha.  “Pada 2013 ada kenaikan seluas 8.416 ha yang menghasilkan 135.000 ton.” (Adi Ginanjar Maulana/Wandrik Panca Adiguna)

oleh Adi Ginanjar Maulana
sumber http://www.bisnis.com/