Ekonomi Guncang, Industri Pangan Olahan Sulit Capai Target

Selasa, 10 September 2013 | 09:23


Sejumlah produsen makanan dan minuman memprediksi pertumbuhan industri itu tahun ini hanya 5% atau turun dari target di atas 7,7% akibat berbagai gejolak ekonomi.




Franky Sibarani, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi), mengatakan penurunan pertumbuhan terlihat sejak awal tahun. Pada 2012, angka pertumbuhan sektor ini mencapai 7,7%, tetapi pada kuartal I/2013 turun sekitar 12%, dan pada kuartal II/2013 hanya naik 4%.

“Bahkan pertumbuhan pada periode Lebaran tahun ini jauh dari ekspektasi kami, yakni 20% - 30%, tapi Lebaran hanya tumbuh 10%,” katanya kepada Bisnis, Minggu (8/9/2013).

Padahal, katanya, setiap kali Lebaran penjualan biasanya melonjak karena  makanan dan minuman olahan lebih banyak dibutuhkan oleh konsumen, selain pakaian.

Menurut Franky, penyebab menurunnya pertumbuhan industri ini adalah daya beli masyarakat yang menurun seiring dengan berbagai masalah ekonomi yang melanda sejak awal tahun, mulai dari penaikan harga bahan bakar minyak hingga nilai tukar rupiah yang melemah.

“Salah satunya adalah penghasilan kalangan para petani akibat komoditi yang sedang turun, terutama di luar Pulau Jawa, seperti karet di Sumatra sedang turun, juga kelapa sawit. Ini menyebabkan pendapatan petani menurun," ujarnya.

Bagi konsumen di perkotaan, katanya, disebabkan pendapatan turun akibat pemutusan hubungan kerja, ditambah lagi adanya kenaikan harga bahan bakar minyak, biaya sekolah, dan harga bahan makanan pokok yang naik. "Sehingga mereka juga mengurangi konsumsi makanan dan minuman olahan," ujar Franky.

Di tengah kondisi ekonomi yang sedang guncang dan nilai tukar rupiah yang anjlok, produsen juga terpaksa menaikkan harga makanan dan minuman 5% - 10%.

Untuk memproduksi makanan olahan tersebut, produsen setidaknya harus mengimpor 60% - 80% bahan baku misalnya gula rafinasi dan terigu.

"Produsen menaikan harga secara bertahap, bergantung pada kekuatan produsen itu sendiri. Ada yang sudah mulai menaikan dan bahkan ada yang sudah sejak awal bulan," ujar Franky.

Dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah ekspor hasil olahan makanan dan minuman dalam negeri ini juga turun hingga 11,81% secara year-on-year (Maret 2012 – Maret 2013).

Franky mengakui produsen makanan olahan saat ini juga belum mampu menggenjot ekspor karena pasar di Eropa dan Amerika tengah lesu.

"Upaya-upaya ekspor itu ada tetapi kalau pun produsen menggenjot produksinya sedangkan pasar di luar lesu, maka tidak ada yang membeli," ujarnya.

 oleh Peni Widarti
sumber http://www.bisnis.com