Merger BUMN Jasa Inspeksi, SUCOFINDO Perkuat Sinergi dan Strategi Bisnis

Selasa, 27 Agustus 2013 | 18:15


Pemerintah melalui Kementerian BUMN berencana menggabungkan PT Sucofindo (Persero) dan PT Surveyor Indonesia (Persero) (PT SI) tahun ini. Penggabungan bertujuan meningkatkan skala bisnis dan daya saing perusahaan milik negara di bidang jasa inspeksi, pengujian dan sertifikasi ini di pasar dalam negeri dan regional. Dengan penggabungan ini, peranan Indonesia dalam rantai perdagangan internasional dan regional akan semakin kuat.
“Dalam proses penggabungan PT SI ke dalam PT Sucofindo, kami telah menetapkan 5 sasaran strategis,"  ujar Direktur Utama PT. Sucofindo, Fahmi Sadiq dalam jumpa pers yang digelar di Jakarta (27/08). Strategi pertama adalah smooth and sure consolidation. “Kami akan menyambut PTSI dengan tangan terbuka," kata Fahmi.

Menurutnya, dengan meningkatnya skala bisnis, struktur organisasi perusahaan akan diperkuat. Kami akan terus mengembangkan jenis layanan pemastian baik bagi pelanggan swasta maupun pemerintah, serta mengembangkan titik pelayanan di kawasan regional. Kedua perusahaan saat ini memiliki keunggulan masing-masing yang bila digabung akan mampu memperkuat jasa-jasa yang telah ada dan mengembangkan lebih banyak lagi jasa baru yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan industri dan perdagangan Indonesia.

Langkah kedua adalah internalisasi budaya perusahaan, sistem manajemen, GCG dan manajemen risiko diikuti dengan upaya-upaya untuk meningkatkan reputasi perusahaan sebagai langkah strategis ketiga.

Perluasan jaringan operasional dan titik layanan di dalam negeri maupun di kawasan regional adalah sasaran strategis yang keempat. Sasaran akhirnya adalah PT Sucofindo, setelah penggabungan akan memberikan kontribusi laba bersih sebesar Rp250 milyar bagi pendapatan negara. “Kami optimis akan mencapai sasaran strategis itu," ujarnya.

Berdasarkan laporan tahunan 2012, kedua perusahaan menunjukkan kinerja keuangan yang baik. PT Sucofindo memiliki 72 jenis jasa utama di 65 titik layanan, yang terdiri dari 33 kantor cabang dan 32 kantor unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara itu, PTSI memiliki 8 titik layanan. “Setelah penggabungan, jaringan pelayanan akan semakin kuat," tutur Fahmi.

Dalam hal infrastruktur, Sucofindo memiliki 45 layanan laboratorium terpadu yang menyediakan layanan pengujian, analisa dan kalibrasi. Semuanya mendapat pengakuan berupa sertifikasi dan akreditasi nasional dan internasional.

Kekuatan lainnya adalah sumber daya manusia. Di usia yang hampir 57 tahun, kegiatan operasional dan dukungan bisnis Sucofindo dijalankan oleh 2.778 pegawai dengan kompetensi dan pengalaman yang luas dan beragam. Sementara itu, PT SI memiliki 427 pegawai. Fahmi menambahkan, nantinya perusahaan hasil penggabungan akan menjadi perusahaan inspeksi, pemeriksaan dan sertifikasi yang terbesar yang beroperasi di ASEAN.

Sucofindo kini tengah terus mengembangkan jasa Mineral Processing dan Coal Bed Methane (CBM) telah berjalan sejak tahun 2012 untuk mendukung peningkatan nilai produk mineral dalam negeri. Pengembangan jasa lainnya, seperti seismic data acquisition, drill stem testing, integrated environmental monitoring management, carbon project, Survey and Mapping, Green Certification, dan Pengujian Produk Panas Bumi (Geothermal) masih terus dikembangkan.

Berbagai lembaga internasional mempercayakan Sucofindo di berbagai bidang. Di bidang energi, Korea Institute of Energy Research (KIER) bekerjasama dengan Sucofindo dalam mengembangkan teknologi peningkatan mutu batu bara Indonesia guna mendukung pembangkitan listrik di Korea. Selain dengan SGS Swiss, kerjasama internasional di bidang inspeksi dilakukan dengan Baltic Control, Denmark dan Cotecna, Jenewa. Kerjasama ini berupa kerjasama resiprocal inspection.

Dalam tiga tahun terakhir ini Sucofindo terus mendapat kepercayaan dari pemerintah Timor Leste untuk membantu mengelola sektor perdagangan, minyak dan gas, energi, lingkungan dan sektor strategis lainnya di negara itu.

Total pendapatan Sucofindo sampai dengan Juli 2013 mencapai Rp 886,21 milyar. Pendapatan ini meningkat sebesar 16,2% dibanding periode yang sama tahun 2012. Sedangkan laba setelah pajak sampai dengan Juli 2013 mencapai Rp 40,41 milyar, naik 73,5% dibanding periode yang sama tahun 2012. Hingga akhir tahun 2013, total pendapatan ditargetkan mencapai Rp 2 trilyun.


Siaran Pers No. 160/SP-VIII/CC/2013