Industri Penyamakan Kulit Masih Terseok-seok

Rabu, 31 Juli 2013 | 08:59


Industri penyamakan kulit tahun ini terseok-seok lantaran terkendala pasokan bahan baku, penurunan permintaan ekspor, dan kenaikan harga bahan kulit yang sangat tinggi.Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Sutanto Haryono mengatakan tahun ini sektor penyamakan kulit masih kekurangan pasokan bahan baku, tahun ini lebih parah dibandingkan dengan tahun lalu.

Selama ini, sebagian besar produsen kulit nasional hanya mengandalkan momentum Hari Raya Idul Adha, yang diwarnai dengan pemotongan hewan kurban, untuk memenuhi 25%-30% dari total kebutuhan bahan baku.

Untuk bisa memenuhi pasokan bahan baku, pihaknya sudah mengajukan permohonan kepada Kementerian Pertanian untuk bisa membuka impor bahan kulit dari negara Asean. Namun, permintaan tersebut belum mendapat respon dengan alasan kekhawatiran penyakit kuku dan mulut hewan.

“Kinerja tahun ini masih jalan di tempat seperti tahun lalu, karena kekurangan pasokan bahan baku. Tahun ini kekurangannya lebih banyak,” kata Sutanto ketika dihubungi Bisnis, Selasa (30/7/2013).

Sutanto mengatakan kondisi industri penyamakan kulit pada tahun ini tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu karena masalah yang dihadapi relatif masih sama. Terlebih masih belum membaiknya krisis keuangan di Eropa yang membuat permintaan kulit dari kawasan itu turun drastis.

Menurutnya, produksi kulit sapi dalam negeri pada tahun lalu mencapai 5 juta lembar, sedangkan kulit kambing dan domba sebanyak 20 juta lembar. “Sepertinya produksi tahun ini tidak jauh beda dengan tahun lalu, statis, tidak ada pertumbuhan,” ujarnya.

Selain faktor krisis Eropa dan keterbatasan bahan baku, masalah lain yang membebani produsen kulit nasional adalah mahalnya harga kebutuhan daging sapi yang mengakibatkan kenaikan harga bahan baku kulit sapi.

Biasanya, harga bahan kulit sapi sekitar Rp20.000-Rp25.000 per kg. Namun, saat ini, harga bahan baku kulit bisa mencapai Rp30.000 per kg. Adapun bahan baku kulit sebagian besar berasal dari Pulau Jawa lantaran kulit yang berasal dari luar Pulau Jawa seringkali tidak memiliki kualitas yang bagus.

“Kami berharap pemerintah bisa segera membuka keran impor dari Asean, misalnya Malaysia. Jadi tidak hanya daging saja, melainkan kulitnya sehingga industri ini bisa tumbuh.”

Selama ini, memang ada bahan kulit yang diimpor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru, namun dengan jumlah terbatas. Pihaknya berharap, pada semester II ini, pasokan bahan baku kulit bisa bertambah karena adanya hari raya Idul Adha.

Kebanyakan produsen kulit memang bergantung pada Idul Adha karena bisa memberikan tambahan pasokan kulit 3—4 kali lipat dari biasanya. Artinya, bisa menjamin kebutuhan pasokan untuk 3-4 bulan ke depannya.

Menurutnya, akibat kekurangan pasokan bahan baku kulit ini, sektor industri yang menggunakan kulit sebagai bahan baku juga ikut turun. “Misalnya industri sepatu dan alas kaki, itu produksinya juga pasti menurun. Ini akan berpengaruh pada ekspor mereka,” tambahnya.

oleh Riendy Astria 
sumber : http://www.bisnis.com