Kenaikan Harga Rumah MBR Masih Berproses

Rabu, 17 Juli 2013 | 09:36


Rencana kenaikan harga rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) masih dalam pertimbangan dan kajian Kementerian Perumahan Rakyat dan prosesnya masih cukup lama.Sebelumnya, Deputi Bidang Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat, Pangihutang Marpaung, mengatakan pada Jum'at (5/7), saat ini masih belum ada keputusan final dari pemerintah terkait besaran kenaikan harga rumah subsidi akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.

"Kementerian saat ini sudah melakukan kerja sama dengan PT Sucofindo pada sejumlah lokasi di Indonesia. Survei ini bertujuan untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM subsidi terhadap harga rumah di daerah," ujarnya.

Sucofindo merupakan perusahaan surveyor yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia. Hasil survei akan menjadi dasar pengkajian  penentuan kenaikan harga rumah sederhana.

Pangihutang menjelaskan Kementerian saat ini sudah mendapat usulan dari Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) untuk menaikkan harga rumah sederhana sebesar 30%. Namun, pihaknya berharap kenaikan harga rumah tidak sebesar itu, supaya tetap terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Deputi Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat, Sri Hartoyo mengatakan pada Selasa (16/7), kenaikan tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

"Proses untuk menaikan harga rumah MBR masih panjang. Karena rumah yang akan terkena kenaikan harga nantinya untuk rumah yang bebas pajak. Karena yang akan terkena kenaikan nanti adalah rumah yang bebas pajak, maka prosesnya harus melaluo kementerian keuangan terlebih dahulu dan kemungkinan memakan waktu lebih dari 6 bulan. Saat ini masih dikaji di internal kemenpera," ujar Sri.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Eddy Ganefo mengatakan kenaikan harga tersebut tidak otomatis rumah dengan harga baru terbebas pajak, karena masih harus membayar pajak PPn 10% dan PPh 15%.

"Memang kenaikan harga BBM mempengaruhi daya beli masyarakat, termasuk daya beli untuk perumahan sehingga juga berpengaruh terhadap penjualan rumah untuk MBR. Kalaupun harus ada kenaikan harga rumah untuk MBR, jumlahnya sebaiknya tidak lebih dari 10%, dengan estimasi harga rumah MBR di Jabodetabek seharga Rp 98 juta dan di luar Jabodetabek Rp 88 juta, belum termasuk PPN dan PPh," ujar Eddy.

Pengaruh kenaikan harga perumahan terhadap penjualan rumah MBR Eddy mengatakan dapat mencapai 20%. Namun kenaikan harga tersebut bisa membidik pasar baru untuk masyarakat berpenghasilan lebih tinggi dari MBR.

"Kalau kenaikan harga rumah nantinya masih diikuti dengan PPn dan PPh, harga baru perumahan akan kurang menarik minat pasar. Karena nantinya mereka hanya mendapat subsidi bunga murah dan tetap sebesar 7,25% dengan tenor 20 tahun bagi MBR," jelas Eddy.

Ditambahkan pula, kalau rumah MBR yang terkena kenaikan harga, harus diikuti dengan pembebasan pajak agar bisa menarik pasar MBR. Dengan begitu, maka pasarnya akan bertambah sampai ke masyarakat berpenghasilan sampai Rp5 juta perbulan. Saat ini kemenpera menetapkan MBR adalah masyarakat berpenghasilan di bawah Rp3,5 juta. (Iqbal Musyaffa)

sumber http://www.metrotvnews.com