PRODUK KAYU: Penaikan BBM Pangkas Profit 10%

Jumat, 28 Juni 2013 | 08:55


Imbas penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi memaksa pelaku industri produk kayu nasional memangkas keuntungan mereka sebesar 10%. Pasalnya, menaikkan harga produk tidak dapat menjadi jalan keluar akibat penerapan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).Penerapan SVLK sebelumnya diproyeksi mampu menaikkan harga jual produk kayu sebesar 20%. Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono menyebutkan penaikan harga BBM membuat pelaku industri produk kayu terpukul dan tidak dapat mengambil solusi selain memangkas keuntungan.

Lebih lanjut, Ambar memaparkan, penaikan harga BBM telah mengakibatkan semua harga industri jasa pendukung industri produk kayu seperti mesin, transportasi, perusahaan kontainer naik hingga 20%. Daya beli masyarakat dalam negeri pun semakin berkurang.

"Jadi kami tidak mungkin menaikkan harga lagi. Satu-satunya jalan adalah melakukan efisiensi melalui penekanan profit hingga 10%," ujar Ambar saat dihubungi Bisnis, Kamis (27/6).

Tak hanya itu, untuk ekspor, harga produk pun tak bisa dinaikkan karena pertimbangan kondisi ekonomi khususnya di Eropa yang masih buruk. Namun, saat ini, kata Ambar, para pelaku industri dalam negeri masih menunggu apakah negara-negara tetangga akan menaikkan harga produk.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan optimistis akibat penerapan SVLK akan terjadi peningkatan pembelian hingga 20% baik dari konsumsi domestik maupun ekspor. Namun, akibat penaikan harga BBM, Ambar justru pesimistis terhadap target tersebut.

"Untuk kuartal II/2013, saya belum melihat datanya, Tapi proyeksi saya, pertumbuhannya hanya 6%-7%. Apalagi untuk kuartal III/2013 akan turun, hanya 5%," tambah Ambar.

oleh Febrany D. A. Putri  
sumber http://www.bisnis.com