Pasar Teh Dunia Terancam Kelebihan Pasok

Jumat, 28 Juni 2013 | 08:45


Pasar teh dunia terancam menghadapi kelebihan pasok akibat dari pemain baru dan pertumbuhan produksi tahunan yang mencapai rata – rata 5% - 7% selama periode 2006 – 2012.Meski permintaan terhadap komoditas teh di pasar dunia cukup kuat, pertumbuhan konsumsi komoditas yang memiliki nama latin Camellia Sinensis ini tidak sebesar pertumbuhan produksinya.

Berdasarkan dokumen Plantations Sector Review 2013 yang dilakukan oleh TKS Research yang berbasis di Kolombo, Sri Langka, pertumbuhan konsumsi teh dunia saat ini hanya di kisaran 3%-4%.

“Tentu belum cukup untuk membuat pasar seimbang,” demikian laporan TKS Research. Saat ini, produksi teh didominasi oleh China sebanyak 1,75 juta ton (41%), disusul oleh India 1,11 juta ton (26%), Kenya sebanyak 369.200 ton (9%), dan Sri Lanka sebanyak 326,3 (8%).

Sementara itu, negara eksportir terbesar dicatat oleh Kenya 429.600 ton yang mengontribusi 25% dari pangsa ekspor dunia. Kenya mengekspor teh lebih dari yang dihasilkan oleh negara itu , yakni 116%.

Sementara itu eksporti terbesar kedua diduduki oleh Sri Langka sebanyak 328.000 ton atau menguasai pangsa ekspor 19%, disusul China 310.000 ton  yang memangsa pasar ekspor 18%, dan India yang mengapalkan teh 180.000 ton atau mengontribusi 10%.

http://www.bisnis.com/pasar-teh-dunia-terancam-kelebihan-pasok

Surplus Beras 10 Juta Ton Sulit Terpenuhi, Banyak Irigasi Rusak
Dimas Novita Sari

BISNIS.COM, JAKARTA--Pemerintah pesimistis target surplus beras nasional sebesar 10 juta ton pada akhir 2014  tidak tercapai karena banyak daerah irigasi (DI) dalam kondisi rusak.

Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mudjiadi menuturkan dari 7,2 juta hektare DI di Indonesia, seluas 2,6 juta hektare di antaranya tidak dalam kondisi baik.

Kewenangan pemeliharaan DI, lanjutnya dibagi menjadi dua yakni pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Dari 7,2 juta hektare yang merupakan kewenangan pusat seluas 2,3 juta hektare. Sedangkan sisanya, atau 70%i di bawah pemerintah kabupaten atau provinsi," katanya dalamm keterangan tertulis, Kamis (27/6).

Dia menjelaskan keterbatasan pendanaan pemda untuk operasi dan pemeliharaan DI menjadi masalah serius dalam upaya ketahanan pangan nasional. Sementara itu, jika hanya mengandalkan DI yang menjadi tugas Pemerintah Pusat maka target surplus produksi beras tidak akan tercapai.

Kendati demikian, meskipun DI yang merupakan kewenangan pemerintah diperbaiki, target surplus padi sebanyak 74,9 ton gabah juga tidak mampu terpenuhi.

“Jika DI milik daerah yang rusak diperbaiki, maka hanya akan mampu memproduksi 74,9 juta ton gabah. Namun jika tidak diperbaiki hanya mampu produksi sebanyak 71,2 juta ton gabah,” jelasnya.

Tidak sampai di situ, permasalahan irigasi di nusantara yang lain ialah pengairan. Sebagian besar DI masih mengandalkan aliran dari sungai atau non-teknis.

“Dari lahan irigasi yang ada saat ini, hanya 800.000 hektare yang airnya disuplai dari waduk sehingga bisa disimpulkan 90% produksi beras kita sangat tergantung iklim,” ujarnya.

oleh Fatkhul Maskur
sumber http://www.bisnis.com