Produksi Karet Berlimpah, Tapi Industri Hilir Masih Impor Bahan Baku

Selasa, 25 Juni 2013 | 08:51


Investasi untuk membangun pabrik crumb rubber di Indonesia, ternyata tidak diikuti dengan peningkatan ketersediaan bahan baku karet alam. Akibatnya, pelaku industri hilir karet harus mengimpor bahan baku. Crumb rubber adalah karet mentah dalam keadaan kering yang berasal dari pengolahan hasil kebun karet dan hanya mengandung 30% karet mentah.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Binsar Marpaung mengatakan saat ini bahan baku pembuatan sepatu dan alas kaki lainnya sekitar 70%--80% masih impor, didominasi dari Korea Selatan dan China. Menurutnya, hal ini disebabkan bahan baku yakni karet diekspor, sementara hilirisasi industri tidak berjalan efektif.

Binsar memaparkan nilai produksi sepatu dan alas kaki lainnya di dunia saat ini mencapai US$20 miliar, dengan dominasi produksi China senilai US$12,3 miliar. Adapun produksi Indonesia pada tahun lalu sekitar US$3,5 miliar, di bawah target US$5 miliar.

"Produksi kita mencapai 700 juta--800 juta pasang, tetapi justru tidak mencapai target karena masalah bahan baku. Hampir 70% bahan baku industri merupakan karet untuk sol, tapi produsen sol dalam negeri menyerah. Kami terpaksa impor dari China dan Korea," ujar Binsar, Senin (24/6/2013).

Hal senada dikemukakan Ketua Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hadi Surjadipradja. Pasalnya, karet merupakan salah satu bahan baku industri ban. Namun, saat ini industri ban lebih banyak menggunakan karet sintetis daripada karet alam, sehingga produktivitas industri menurun. "Saya tidak melihat ada usaha pemerintah untuk mendorong produktivitas," tuturnya.

Ketua Dewan Karet Nasional Azis Pane menyebutkan, saat ini Indonesia memiliki 146 pabrik crumb rubber dengan kapasitas produksi terpasang 4 juta ton per tahun. Namun, ketersediaan bahan baku hanya mampu mencapai 3 juta ton per tahun. Akibatnya, terdapat kelebihan permintaan yang harus dipenuhi sebanyak 1 juta ton per tahun.

"Hal ini menyebabkan petani karet kita mencampurkan karet mentah dengan pasir dan lumpur untuk memenuhi permintaan. Namun, mereka tidak sadar hal tersebut membuat pabrik bekerja lebih keras untuk membersihkannya. Harga karet dalam negeri pun semakin rendah dan menurunkan daya saing. Ini mengkhawatirkan," kata Azis.

oleh Febrany D. A. Putri
sumber http://www.bisnis.com