CUACA BURUK: Produksi Kopi Robusta Bakal Turun 33%

Rabu, 29 Mei 2013 | 09:27


Produksi kopi Robusta di perkebunan wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah diperkirakan anjlok hingga 33% daripada panen 2012 karena pengaruh cuaca yang buruk. Data Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jateng menunjukkan produksi kopi Robusta Temanggung pada panen tahun lalu mencapai 12.000 ton biji hijau (green bean) sedangkan jenis Arabica sebesar 3.500 ton.
 
Ketua APEKI Jateng, Imam Sarjo mengatakan produksi untuk periode 2013 akan menurun seiring dengan kemarau panjang sehingga musim penghujan mundur dan memengaruhi pembungaan tanaman kopi.
 
“Panen tahun ini turun, green bean Robusta sekitar 8.000 ton dan Arabica menjadi 3.000 ton, biasanya Temanggung memasok 40% kopi Jateng,” katanya kepada Bisnis, Selasa (28/5/2013).
 
Menurutnya, musim hujan yang terlambat pada 2012 membuat pembungaan terjadi hanya sekali sementara jika musim tidak berubah kopi bisa berbunga tiga kali selama masa panen sehingga produksi lebih banyak.
 
Kopi Robusta di wilayah Kota Tembakau itu dihasilkan dari lahan seluas 12.000 hektare meliputi perkebunan rakyat 9.000 ha dan lahan Perhutani 3.000 ha. Sedangkan Arabica hanya dari perkebunan rakyat seluas 1.200 ha.
 
Masa panen kopi, kata Imam, berlangsung berurutan didahului jenis Arabica selama tiga bulan pada Mei hingga Juli, sementara Robusta memiliki masa panen empat bulan dimulai Juni sampai September.
 
APEKI menyatakan harga Robusta kualitas super senilai Rp25.000 – Rp30.000 per kilogram dan Rp20.000 untuk kualitas biasa. Untuk Arabica diatas Rp60.000 per kilogram dan rata-rata Rp36.000 per kilogram, dimana harga-harga itu cukup stabil.
 
Data Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Bidang Produksi Kabupaten Temanggung menyebutkan penanaman kopi wilayah itu a.l di daerah Kledung, Bansari, Tlogomulyo dan Tretep yang merupakan wilayah pegunungan.
 
Distanbunhut Temanggung juga sempat memperkirakan penurunan produksi kopi di wilayahnya mencapai 25% karena gangguan cuaca dimana Robusta ditanaman dengan pola monokultur dan Arabica secara tumpang sari.
 
Adapun, realisasi ekspor kopi Jateng sepanjang 2012 hanya 6.800 ton atau turun hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 11.056 ton karena turunnya produksi akibat kemarau panjang 2011.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jateng, Mulyono Soesilo mengatakan realisasi itu mencapai sekitar US$16 juta, turun signifikan dari 2011 sebesar 11.056 ton dengan nilai US$28,198 juta. (dot)

oleh Endot Brilliantono
sumber http://www.bisnis.com