Pemerintah Diminta Atasi Polemik Uji Lab Pupuk Bersubsdi

Jumat, 17 Mei 2013 | 09:45


Pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) diminta segera turun tangan mengatasi polemik hasil uji labarotarium belum lama ini yang menemukan kandungan unsur hara pada pupuk NPK Phonska bersubsidi yang lebih rendah dari yang tertera di label. Pasalnya, hasil uji lab tersebut telah meresahkan sebagian petani."Sebaiknya pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) segera melakukan sosialisasi metode analisa SNI pupuk ke semua pihak. Karena boleh jadi, jika suatu laboratorium melakukan metode uji NPK dalam pupuk menggunakan metode uji NPK dalam tanah tentu hasilnya akan berbeda,” katanya, Rabu (15/5) malam.

Rohman menyarankan agar konsumen mempertanyakan metode uji yang digunakan oleh setiap laboratorium yang menguji dan menganalisa kandungan unsur hara seperti Nitrogen (N), Fosfor (F) dan Kalium (K), pada pupuk NPK PHONSKA bersubsidi.

“Apakah metode ujinya telah sesuai dengan standar Nasional (metode SNI) atau dengan metode standar Internasional atau tidak," katanya.

Sebuah hasil uji laboratorium, menurut dia, lebih layak dipercaya apabila dikeluarkan oleh suatu laboratorium yang menggunakan metode uji berdasarkan SNI dan laboratorium tersebut telah terakreditasi dan diakui secara internasional sesuai dengan ISO 17025: 2005.

“Alasannya, laboratorium terakreditasi itu telah melaksanakan serangkaian penjaminan mutu analisis untuk memastikan bahwa hasil analisis yang dikeluarkan oleh laboratorium bersifat valid (absah),” tandasnya.

Lebih lanjut, Rohman menjelaskan, bahwa dari hasil analisis NPK yang dikeluarkan oleh laboratorium uji atau pihak tertentu semestinya juga bisa diketahui oleh konsumen apakah dinyatakan dalam kandungan N, P, K atau sebagai N, P2O5 dan K2O. Karena hal ini tentunya juga akan menimbulkan perbedaan.

Bila PKG menyatakan bahwa dalam label produknya sesuai dengan SNI dengan kandungan P2O5 sebesar 15%, maka semestinya pula laboratorium atau pihak lain yang juga melakukan pengujian harus dalam kandungan P2O5. Jika pihak lain menulis dalam P dan dinyatakan dalam % P tentunya kandungannya akan 2,29 kali lebih kecil dibandingkan jika kandungan P-nya dinyatakan dalam % P2O5,” terang dia.

Demikian juga dengan kandungan K jika dinyatakan dalam % K tentunya kandungannya akan 1.205 kali lebih kecil dibandingkan jika kandungan K-nya dinyatakan dalam % K2O.

Oleh karena itu, menurut Rahman, untuk sampai pada kesimpulan bahwa pupuk yang sampai ke tangan konsumen berkualitas dibawah standar mutu, semestinya pula dipastikan dahulu apakah kandungannya dalam % P atau % P2O5 atau dalam % K atau K2O.

Tentu, jika kandungan P dinyatakan sebagai P2O5 maka konsumen harus mengalikan kandungan % P dengan 2,29 atau secara matematis adalah % P2O5 sama dengan %P x 2,29. Begitu juga % K2O sama dengan %K x 1.205.

Selain itu, konsumen juga harus memperhatikan apakah kandungan P2O5 atau K2O dinyatakan sebagai % P2O5 atau K2O dalam berat basah pupuk (adbb) atau dalam % P atau K dalam berat kering. SNI sendiri menstandarkan laporan analisa atas dasar bahan kering (adbk).

Jika ada laboratorium melaporkan kandungan % P2O5 atau % K2O dalam bentuk basah maka hasilnya tentu akan lebih kecil jika dibandingkan pelaporan dalam bentuk kering, karena masih adanya kandungan air dalam pupuk padat basah.

“Jika memang ini yang terjadi, konsumen berhak meminta kepada laboratorium yang menguji pupuk itu untuk melaporkan berapa % kandungan air dalam pupuk lalu melakukan perhitungan ulang,” ujar Abdul Rahman.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PKG, Bambang Heru menyatakan bahwa pupuk NPK PHONSKA yang diproduksi PKG sudah berstandar SNI. Mutu produk pupuk tersebut didasarkan pada SNI nomer 02-2803-2000 dan SNI nomer 02-2803-2010 dengan spesifikasi kadar unsur hara N sama dengan 15 %, P2O5 sama dengan 15% dan K2O sama dengan 15% dengan toleransi analisis kandungan sesuai SNI Nomor 02-2803-2010.

Proses produksi pupuk bersubsidi NPK Phonska yang selama ini diproses PKG menggunakan sistem manajemen ISO-9001 atau SNI-9001:2008 sehingga terjamin konsistensi dan mutu produknya. Disamping proses produksinya, kualitas bahan baku yang dibeli juga sesuai dengan standard SNI.

“PKG telah melakukan penjaminan mutu produk melalui serangkaian uji kandungan pupuk NPK dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungan N, P, dan K sesuai dengan yang tertera dalam label dengan kisaran tertentu,” ungkap Heru.

Menurut Heru, hasil analisa dan uji labarotorium PKG dengan laboratorium Sucofindo yang keduanya telah terakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) sesuai dengan ISO 17025: 2005 tentunya cukup melandasi kesesuaian antara kandungan unsur hara pada pupuk NPK Phonska dengan yang tertera di label.

oleh JG Photo/ Jurnasyanto Soekarno
sumber http://www.beritasatu.com