40 Hotel di Bali Siapkan Manajemen Keamanan Hadapi APEC

Selasa, 30 April 2013 | 09:54


Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Kepolisan Republik Indonesia menargetkan 40 di Bali dari 15.899 hotel berbintang memiliki sertifikasi sistem manajemen pengamanan pada 2013.Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan upaya ini dilakukan untuk memberikan jaminan dan kepastian keamanan kepada wisatawan asing yang berkunjung di Indonesia.

“Kualitas keamanan merupakan langkah strategis untuk mencapai keberhasilan di sektor pariwisata, untuk meraih potensi pasar wisatawan dunia yang sangat besar,” katanya saat peluncuran sistem manajemen pengamanan di Nusa Dua, Bali, Senin (29/4/2013).

Dalam upaya menciptakan keamanan tersebut, Kemenparekraf telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia No.PM.106/PW.006/MPEK/2011 tentang Sistem Manajemen Pengamanan Hotel pada 2011.

Lebih jauh lagi, Kemenparekraf telah membuat Perjanjian Kerjasama dengan jajaran Kepolisian Republik Indonesia mengenai penyelenggaraan pengamanan di destinasi pariwisata, termasuk di hotel-hotel dan usaha akomodasi lain.

Sebagai langkah awal, lanjut Ukus, penerapan sistem manajemen pengamanan ini akan diterapkan di Bali. Namun untuk sejumlah destinasi seperti kalangan stakeholder terkait di Jawa Barat, Sumatera Utara, DKI Jakarta, kepulauan Riau, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Yogyakarta, serta Jawa Timur akan segera menyusul.

Untuk di Bali lebih dulu difokuskan kepada keperluah hotel penyelenggara konferensi tingkat tinggi APEC pada September 2013. Sejumlah layanan akomodasi di kawasan Nusa Dua akan terlebih dulu diverifikasi terkait manajemen keamanannya. “Saat ini, sudah ada lima hotel yang sudah terverivikasi. Namun hasilnya belum.”

Tercatat, sebelum APEC 2013 di Bali, kementerian pimpinan Mari E Pangestu ini menargetkan sebanyak 40 hotel di Bali lulus verifikasi manajemen keamanannya.
Untuk itu, paparnya, tim dari polri dan kemenparekraf serta PT Sucofindo sebagai verivikator akan bekerja semaksimal mungkin untuk meningkatkan kinerja. Dalam seminggu, tim bekerja Selasa dan Kamis untuk memverifikasi sejumlah hotel yang akan digunakan untuk APEC.

Sementara itu, Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Polri, mengatakan sistem manajemen pengamanan ini juga sangat penting untuk diwujudkan. “Pada konsep ini, manajemen hotel dan kepolisian serta pemerintah daerah diharap mampu mewujudkan komunikasi tentang keamanan,” katanya.

Oegroseno pun juga memastikan tidak akan lagi menggerebek hotel, terutama di sejumlah kawasan destinasi wisata guna memberikan kenyamanan kepada pengguna sarana. Upaya ini dilakukan untuk membentuk citra positif pariwisata Indonesia. “Jadi nanti tidak akan ada lagi teriakan: angkat tangan, saya polisi atau BNN di pintu kamar,” katanya.

Jajaran kepolisian, lanjut Oegroseno, akan bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mewujudkan ketertiban tanpa mengganggu kenyamanan wisatawan. Untuk proses lebih lanjut, komunikasi akan dilakukan hingga tingkat jajaran kepolisian sektor. Selain itu, paparnya, kerja sama juga akan dilakukan dengan manajemen hotel dan pemerintah daerah setempat termasuk badan penanggulangan bencana.

“Khusus untuk manajemen hotel, diminta kerja samanya dalam mengomunikasikan segala sesuatu terkait kemanan.”

Terkait prakteknya, penangkapan pada dugaan transaksi narkoba dan penyalahgunaan layanan akomodasi lainnya, lanjut Oegroseno, polisi akan memetakan terlebih dulu. Mulai mempelajari gerak-gerik tersangka hingga langkah penyadapan. Adapun proses selanjutnya, penangkapan pada tersangka yang diduga bertransaksi di dalam akomodasi wisata akan dilakukan di tempat yang ditentukan.

“Langkah ini ditujukan untuk memberikan kenyamanan pada wisatawan, baik asing maupun domestik.”

Untuk sistem pelaporan, paparnya, polisi menyediakan crisis center dengan nomor 110.  Saat ini, pengembangan layanan crisis center itu masih dalam pengembangan dengan menjalin kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Adapun untuk pelaksanaan audit sistem manajemen pengamanan itu, jelas Oegroseno, akan didahului dengan kegiatan audit standar pada sejumlah hotel  di Bali dan Jakarta. Hotel St. Regis Bali Resort dan Sheraton Kuta Bali serta The Dharmawangsa dan Oakwood Premier Cozmo Hotel Jakarta.

Made Dila, Direktur Keamanan St Regis Resort Bali, mengatakan sebagai bentuk kesiapan perusahaan telah membentuk manajemen krisis dengan menyiapkan seluruh personel untuk tanggap terhadap keadaan darurat. Kawasan Nusa Dua, Bali, mempunyai sejumlah ancaman alam termasuk gempa yang berpotensi Tsunami.

Saat ini, pembentukan manajemen krisis di lingkungan hotel telah sampai tahap pelatihan. setiap divisi kerja terbagi dari beberapa kelompok yang nantinya akan memandu wisatawan. “Jadi, nantinya jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam, seluruh pegawai mampu memandu wisatawan untuk keluar atau menghindar dari bencana.”

oleh Ashari Purwo/JIBI/Bisnis
sumber http://www.solopos.com