Pebisnis Tekstil Domistik Hadapi Lampu Kuning

Selasa, 29 Januari 2013 | 09:07


Pebisnis tekstil domestik menghadapi lampu kuning lantaran produk tekstil impor diprediksi semakin membanjiri pasar lokal. Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan, pangsa pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) impor tahun ini bisa meningkat 10 persen menjadi 65 persen dari pangsa pasar tahun lalu sebesar 55 persen.Pasar tekstil dalam negeri tahun ini diprediksi cuma tumbuh minimal 5 persen dari pasar tahun lalu yang mencapai 22,7 miliar dollar AS. Membanjirnya produk tekstil impor lantaran produk teksil domestik kalah bersaing. Biaya produksi yang membengkak akibat kenaikan biaya energi dan upah pekerja, membuat industri tekstil lokal mengerek harga 16,7 persen di tahun ini. Kenaikkan harga itu demi mempertahankan margin usaha.”Produk lokal harganya naik sementara produk impor tetap,” kata Ade, di Jakarta, pekan lalu.

Imbasnya bisa ditebak, konsumen pasti memilih tekstil impor berharga miring. Murahnya harga tekstil impor ini membuat kebutuhan tekstil made in Indonesia per kapita tahun ini bisa turun menjadi 6,6 kilogram saja. Padahal tahun lalu mencapai 7 kilogram produk tekstil per kapita per tahun.

Pelan namun pasti, pertumbuhan penjualan tekstil domestik melambat. API mencatat, penjualan tekstil lokal di pasar domestik tahun 2010 mencapai 7,4 miliar dollar AS atau tumbuh 23 persen dari 2009 yang sebesar 5,7 miliar dollar AS. Tahun lalu, pertumbuhannya cuma 3 persen menjadi 7,6 miliar dollar AS. Untuk tahun ini diprediksi penjualan tekstil lokal bisa turun 10 persen dari tahun lalu. “Untuk pertama kali dalam beberapa tahun terakhir bisa minus,” ujar Ade. Artinya, untuk tahun ini penjualan industri tekstil nasional cuma bisa mencapai 6,8 miliar dollar AS. (red/sis)

sumber http://www.tubasmedia.com