EKSPOR KOPI: Infrastruktur terbatas, aktivitas lesu

Kamis, 03 Januari 2013 | 10:08


Eksportir Kopi di Sumatra Selatan menilai lesunya kegiatan ekspor kopi di Sumsel akibat terbatasnya kapasitas infrastruktur serta mahalnya ongkos pengiriman komoditas tersebut.Bahkan, saat ini eksportir yang tergabung dalam Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumsel sendiri tercatat tinggal 2 eksportir dari total 119 eksportir.

Ketua Kompartemen Mutu dan Produksi AEKI Sumsel HK Toni mengatakan ratusan eksportir itu banyak yang “lari” ke Lampung karena di sana tersedia pelabuhan yang bisa menampung kapal-kapal bermuatan lebih besar.

“Kami ini tidak bisa mengekspor dari Pelabuhan Boom Baru Palembang karena kapasitas kapal tidak bisa menampung hasil produksi kopi, kapal-kapal besar tidak bisa masuk ke sana, sehingga banyak yang lari ke Pelabuhan Tarahan di Lampung,” katanya, awal pekan ini.

Menurut Toni, selain masalah infrastruktur, ongkos pengiriman dari Palembang tergolong lebih mahal karena ekspor akhirnya harus melalui feeder. Selain itu, eksportir juga enggan mengambil risiko yang lebih besar.

Dia mengatakan permasalahan itu akhirnya juga berimbas pada anjloknya volume ekspor kopi asal Sumsel.

Toni mengemukakan biasanya AEKI Sumsel mampu mengekspor 100.000 ton biji kopi per tahun, tepatnya pada era 90-an. Akan tetapi sekarang eksportir hanya mengekspor 2.000 ton – 3.000 ton biji kopi per tahun.

Asosiasi itu meminta kepada Pemprov Sumsel untuk segera merealisasikan   pelabuhan Tanjung Api – Api agar bisa membangkitkan kembali ekspor kopi dari Sumsel.

“Pelabuhan TAA itu kan jelas lebih besar dibanding pelabuhan yang ada sekarang. Jika pelabuhan itu sudah beroperasi mungkin dapat berpengaruh positif terhadap kegiatan ekspor kopi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistitk (BPS) Sumsel Baehdi Ruwana mengatakan saat ini ekspor non migas yang masih menjadi andalan Sumsel hanya karet, batu bara dan kayu/produk kayu.

Sementara nilai ekspor kopi masih berada di bawah komoditas andalan itu. Sepanjang Januari – Oktober 2012 ekspor kopi tercatat US$12,61 juta atau naik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$10,41 juta.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan dan Energi Kab. Empat Lawang Susyanto Tunut, mengatakan masalah yang membuat lesunya perdagangan kopi di Sumsel jarangnya eksportir yang langsung menampung kopi dari sentra-sentra produksi .

“Itulah problem kopi di Sumsel karena eksportirnya  lari semua ke Lampung. Produksi di sini tetapi yang terkenal malah provinsi lain. Oleh karena itu, kami berupaya mengajak eksportir untuk membuat pergudangan di Empat Lawang,” katanya.

Kabupaten empat lawang merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Sumsel.   Kopi jenis robusta ini tersebar di lahan seluas 63.000 hektare. Sementara  total luas lahan kopi di Sumsel sendiri mencapai 256.149 ha. Adapun potensi produksi kopi robusta Empat Lawang bisa mencapai 37.000 ton per tahun.  (msb)

oleh Dinda Wulandari
sumber  http://www.bisnis.com