KOMODITAS UNGGULAN: Pakai cara Jepang, Bali unggulkan sentra jeruk kintamani

Rabu, 26 Desember 2012 | 09:53


Indonesia berhasil membangun 45 titik daerah khusus yang dioptimalisasi mengeksploitasi komoditas unggulan desa melalui pendekatan program one village one product yang diadopsi dari Jepang. Pengembangan program one village one product (OVOP) di seluruh 45 wilayah tersebut dikembangkan Kementerian Koperasi dan UKM melalui wadah koperasi beranggotakan pelaku usaha mikro dan kecil berstatus petani.
 
I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian UKMK Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan dari 45 titik tersebut, dua di antaranya berada di pulau Dewata Bali. Yakni di Kabupaten Bangli dan Badung.
 
“Program yang dikembangkan melalui pendekatan OVOP di Bangli adalah komoditas jeruk Kintamani. Sedangkan komoditas yang dieksploitasi di Badung komoditas sayur-mayur,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (25/12).
 
Komoditas sayur mayur yang dimaksud dipusatkan di Plaga Petang Kabupaten Badung, dan fokusnya adalah asparagus. Desa Plaga memang dikenal sebagai daerah penghasil sayur mayur sehingga optimalisasi asparagus dilakukan di daerah itu.
 
Bangli yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil jeruk Kintamani akhirnya dipilih untuk menjadi lokasi optimalisasi kedua komoditas tersebut. Selama ini, kata Wayan Dipta, kedua daerah tu seakan terlupakan mendapat dukungan pemerintah.
 
”Karena Bupati kedua kabupaten itu sangat respons ketika diperkenalkan program OVOP, maka kami mengembangkannya di kedua kabupaten itu. Awalnya kami sukar memperkenalkan program ini,” katanya.
 
Apalagi pola tanam yang dilakukan petani diubah untuk perbaikan hasil panennya. Akan tetapi mereka mengakui puas atas hasil panen yang diraih melalui pendekatanprogram OVOP.
 
Optimalisasi ketika dimulai sejak 2010, didukung ahli dari International Center for Development Fund (ICDF) Taiwan yang memiliki ahli OVOP. Sejak saat itulah kedua daerah tersebut terus berkembang. (arh)

oleh Mulia Ginthing Munthe
sumber http://www.bisnis.com