Penyelundupan Bahan Mentah Rotan Masih Marak

Jumat, 02 November 2012 | 10:09


Penyelundupan bahan baku rotan ke luar negeri masih marak terjadi setelah adanya regulasi pelarangan ekspor bahan baku mentah sejak tahun lalu. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi mengatakan data ekspor produk rotan olahan dalam negeri cenderung turun setiap tahun sebelum adanya pelarangan tersebut.“Tindakan penyelundupan itu bisa dilihat dari penangkapan yang dilakukan oleh Bea Cukai. Itu yang tertangkap, belum lagi yang tidak tertangkap,” katanya di sela-sela pembukaan Pameran Furniture dan Produk Interior di Kementerian Perindustrian, Selasa (30/10/2012). Beberapa waktu lalu, Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok menggagalkan upaya penyelundupan ekspor rotan asalan dan setengah jadi sebanyak 17 kontainer berukuran 40 kaki senilai Rp2,55 miliar.

Menurut Benny, kebijakan pelarangan ekpor bahan baku tersebut memang telah mendongkrak pertumbuhan produk jadi rotan. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai ekspor produk olahan rotan mencapai US$143,6 juta sampai dengan Agustus 2012.

Pada 2007, nilai ekspor produk olahan rotan mencapai US$367 juta. Pada 2008, nilai ekspor produk tersebut turun menjadi US$313 juta. Adapun nilai ekspor produk tersebut menunjukkan tren turun pada kurun waktu 2009—2011, yakni US$224 juta (2009), US$212 juta (2010), dan US$168 juta (2011).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur mengatakan penyelundupan masih marak karena industri olahan mengalami kekurangan bahan baku. “Apalagi, mayoritas bahan bakunya ada di Indonesia. Meskipun demikian, pelarangan ekspor itu ada juga pihak yang memanfaatkannya,” katanya.

Dia membantah maraknya penyelundupan tersebut disebabkan industri dalam negeri tidak maksimal menyerap bahan baku. Menurutnya, industri dalam negeri sudah mampu menyerap bahan baku dan itu membuat kinerja ekspor industri rotan naik. Sobur mengatakan kebijakan pelarangan ekspor itu telah mendorong penambahan industri sektor tersebut. Kondisi itu memaksa industri untuk bangkit lagi. “Kebijakan pelarangan ekspor bahan baku sudah tepat, tinggal bagaimana pengamanannya lebih ditingkatkan,” tuturnya.

Ketua Asosasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahjono mengatakan pihaknya ragu nilai ekspor produk rotan olahan mengalami kenaikan. Menurutnya, sebanyak 15% produk rotan tidak seharusnya dimasukkan dalam penghitungan nilai ekspor. “Beberapa produk, kandungan rotannya sedikit, tetap masuk pada pos tarif rotan,” katanya.

Oleh karena itu, tutur Ambar, pihaknya berharap pemerintah merinci lagi jenis produk rotan yang akan diekspor. “Jangan sampai produk mebel kayu atau keramik dengan kandungan rotan di bawah 5% masuk dalam penghitungan HS produk rotan,” ujarnya. Asmindo menilai sebaiknya nilai ekspor rotan hanya dihitung untuk mebel dengan kandungan rotan mencapai 75%—80%.

sumber http://www.solopos.com