Eco Green’ Rotan Lokal Diminati Pasar Ekspor

Selasa, 27 November 2012 | 09:47


Kampanye eco green dengan filosofi kembali ke alam mulai berbuah. Produk rotan dan bambu Indonesia meningkat di pasar asing di gelanggang internasional, terutama di kawasan Eropa, Afrika, dan Amerika."Indonesia termasuk dalam peringkat kedua di dunia sebagai negara pengekspor rotan dan bambu setelah RRC," kata mantan Duta Besar Indonesia untuk Libya yang kini menjabat sebagai seorang Pejabat Senior Fungsional Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu, Sanusi, di Jakarta, Kamis.
"Nilai ekspor rotan dan bambu Indonesia mengalami kenaikan menjadi 112 juta dolar AS (Rp 1,064 triliun) pada tahun ini," kata Sanusi.

Sanusi menambahkan, memelihara komitmen kerja sama dengan negara luar sangat diperlukan guna meningkatkan volume ekspor produk rotan dan bambu Indonesia, serta meningkatkan mutu dan kepercayaan dari negara luar tersebut dengan Indonesia.
Produk rotan dan bambu yang saat ini dibutuhkan atau diminati oleh mitra Indonesia seperti Jepang adalah produk rotan dan bambu dalam kategori furniture.

Pengusaha mebel rotan di Cirebon Toto mengatakan, hasil kerajinan mebel rotan di Cirebon yang menampilkan produk-produk dengan tema ecogreen ternyata sangat diminati konsumen Italia dan Spanyol. Dia menyebutkan,mebel rotan hasil perajin Cirebon mampu bersaing dengan negara produsen mebel lain. Sejumlah perajin melirik pasar ekspor karena permintaan konsumen.

Permintaan itu juga dibarengi dengan peningkatan kualitas seperti desain, bahan baku, serta kualitas mebelnya sendiri. Sebab, tanpa meningkatkan semua itu, hasil produksi mebel tidak akan mampu bersaing dengan pasar internasional lainnya. Dia menyebutkan, selain Eropa, mebel rotan produksi perajin di Cirebon juga bisa menembus pasar Asia seperti Jepang. Di negaraitu, konsumen lebih tertarik dengan desain minimalis.

Semenjak bencana tsunami yang terjadi di Jepang beberapa tahun lalu dan seringnya terjadi gempa bumi, penduduk Jepang sangat membutuhkan dan meminati produk yang tidak mudah rusak seperti rotan dan bambu untuk keperluan furniturnya karena dinilai ringan dan mudah untuk dipindah-dipindahkan.

"Kreatif dan inovatif dengan membuat konsep melalui pembuatan kebijakan-kebijakan dalam bentuk rancangan Undang-Undang Perdagangan dan pembaharuan Undang-Undang Perindustrian," kata Pendiri Himpunan Usaha Kecil Eksportir Indonesia (HUKEI), Erwin Elias.

Negara luar lebih memercayai barang impor dengan harga mahal dibandingkan dengan barang impor dengan harga murah karena mereka percaya dengan kualitas tinggi yang harus dibayar mahal.

Produk rotan dan bambu Indonesia yang diekspor harus ditampilkan dalam tampilan menyeluruh (showcase) agar lebih terlihat manfaat dan fungsi dari produk rotan dan bambu tersebut. ant,ins

sumber http://www.surabayapost.co.id