Diperlukan Upaya Peningkatan Daya Saing

Selasa, 27 November 2012 | 09:46


Industri kayu Indonesia kalah bersaing dengan industri serupa di Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Padahal, luas hutan di negara-negara tersebut jauh lebih kecil dibanding Indonesia.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Sugiono mengatakan, saat ini kondisi industri kehutanan nasional dari hulu ke hilir tergolong memprihatinkan. Untuk itu, diperlukan kebijakan dan strategi pemerintah untuk meningkatkan daya saing, sehingga bisa mendorong kebangkitan industri kehutanan.

"Di sektor hilir industri kehutanan misalnya, saat ini Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang luas hutannya lebih kecil dibanding Indonesia," kata Sugiono, saat membuka seminar bertajuk "Strategi Kebijakan Peningkatan Daya Saing Sektor Kehutanan", di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, perbedaan harga kayu bulat yang cukup mencolok antara di dalam dan di luar negeri mengakibatkan minimnya nilai tambah yang diperoleh industri pengolahan kayu di dalam negeri. Harga kayu olahan, seperti panel maupun kayu lapis dan lainnya, hampir sama dengan kayu bulat (log) untuk pasar ekspor.

Seharusnya Indonesia bisa memanfaatkan kondisi krisis global belakangan ini sebagai peluang, bukan sebagai ancaman. Dengan ini, pertumbuhan ekonomi nasional bisa tetap terjaga," tuturnya.

Untuk jangka panjang, diperlukan langkah-langkah strategis, terukur, dan berkesinambungan untuk mendorong peningkatan kinerja industri. Dalam hal ini, peta jalan pembangunan industri kehutanan berbasis hutan tanaman yang sudah disetujui Menteri Kehutanan dapat menjadi titik awal.

"Tentunya peta jalan tersebut masih bersifat arahan dalam garis besar. Jadi diperlukan kebijakan turunan dan rencana aksi, sehingga dapat diimplementasikan secara efektif," ujarnya.

    Terkait hal ini, Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan mengatakan, industri tidak mungkin mengandalkan hutan alam untuk kegiatan produksi, karena mengancam eksistensi hutan alam Indonesia. Seharusnya ada terobosan baru dengan penanaman pohon yang kayunya bagus dengan masa panen yang lebih pendek. Misalnya kayu sengon yang bisa dipanen lima hingga enam tahun. (Joko Sriyono)


sumber http://www.suarakarya-online.com