KMP Bahuga Jaya dan Selingkuh Sertifikasi

Selasa, 30 Oktober 2012 | 09:14


Tabrakan \'adu tanduk\' di pagi buta yang dingin antara kapal Ro-Ro penyeberangan Merak-Bakaheuni, KMP Bahuga Jaya, dengan kapal tanker berbendera Singapura, Norgas Cathinka, yang mengangkut LPG ke China pada tanggal 26 September 2012 di perairan internasional Selat Sunda ternyata menguak cara kerja lembaga sertiifikasi laut yang selama ini memang diragukan kehandalannya.
Di semua moda transportasi, peran lembaga sertifikasi sangat penting terkait dengan kelayakan bisa tidaknya sebuah moda tersebut untuk mengangkut penumpang dan atau barang. Dengan sertifikasi, maka moda transportasi bisa mendapatkan jaminan asuransi ganti rugi selama moda tersebut beroperasi.

Peran lembaga sertifikasi, seperti Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU), Sucofindo, Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) dan lain-lain adalah memberikan jaminan keamanan dan keselamatan sebuah layanan atau produk kepada konsumen. Dengan sebuah sertifikat tersebut, operator/pemilik moda akan mudah mendapatkan jaminan asuransi. Semakin tidak kompeten lembaga sertifikasi, maka semakin mahal premi asuransinya atau bahkan ditolak. Apalagi kalau ada perselingkuhan sertifikasi.

Setelah penulis melakukan investigasi literatur dan lapangan selama kurang lebih 2 minggu terhadap kasus tabrakan antara KMP Bahuga Jaya dengan Norgas Cathinka, tanpa mendahului temuan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), ditemukan banyak kejanggalan terkait dengan sertifikasi yang dikeluarkan oleh BKI. Selain itu kejanggalan juga ditemukan dalam penanganan dilapangan oleh para aparat keamanan yang bertugas saat ini. Ada apa ya ?

Cerita di Balik KMP Bahuga Jaya

Menurut data dari Lloyd’s List Intelligence, KMP Bahuga Jaya dibuat tahun 1972 oleh Ulstein Verft AS di Norwegia dan dioperasikan pertama kali pada 23 Desember 1975 dengan nama Bonanza, yaitu kapal penumpang untuk pelayaran di fyord di sekitar Scandinavia.

Kapal ini kemudian sempat berpindah pemilik beberapa kali, dan terakhir dibeli oleh PT Atosim Lampung Pelayaran dari MBRS Lines Incorporated di Filipina pada awal 2008. Kapal ini ketika dibeli PT Atosim bernama the Blessed Mother dan beroperasi di Filipina. Oleh PT Atosim diubah menjadi KMP Bahuga Jaya untuk pelayaran Ro-Ro Merak Bakaheuni.

Selanjutnya berdasarkan Lloyd’s Register of Shipping Confidential Index 2010, KMP Bahuga Jaya memang dibuat tahun 1972 di Norwegia tetapi saat dilaporkan ke otoritas pelayaran Indonesia, Badan Klasifikasi Indonesia (BKI), tahun pembuatannya diubah menjadi tahun 1992. Kalau benar adanya, ini sebuah perselingkuhan yang pada akhirnya merenggut 7 nyawa manusia sia-sia. Secara hukum patut diduga BKI dan PT Atosim melanggar hukum dengan memalsukan tahun pembuatan kapal.

Dari serpihan KMP Bahuga Jaya yang berserakan di atas haluan Norgas, menunjukkan rendahnya kualitas material yang digunakan untuk memodifikasi KMP Bahuga Jaya dari kapal penumpang manusia menjadi kapal Ro-Ro yang juga bisa mengangkut kendaraan. Buruknya material dan modifikasi terlihat dari foto-foto yang beredar di internet. Jadi jangan heran jika dalam tabrakan tersebut, kapal Bahuga Jaya tenggelam dalam waktu kurang dari 30 menit.

Jika kita perhatikan foto KMP Bahuga Jaya sebelum tenggelam, terlihat bahwa modifikasi buritan, lambung dan haluan kapal tidak mengikuti standar keselamatan pelayaran yang ada. Konstruksi lubang ventilasi udara yang besar di kiri dan kanan lambung kapal sangat dekat dengan permukaan laut serta modifikasi yang buruk pintu pendaratan (ramp) di haluan kapal patut diduga menjadi penyebab utama kapal langsung tenggelam.

Langkah Yang Harus Dilakukan Pemerintah

Patut diduga telah terjadi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pemilik KMP Bahuga Jaya dan lembaga sertifikasi BKI terkait dengan pemalsuan usia kapal. Selain itu, pemberian sertifikat laik laut oleh BKI juga terkesan asal-asalan karena modifikasi kapal yang dilakukan patut diduga mengabaikan keselamatan pelayaran antar pulau di jalur pelayaran internasional yang sangat padat, kok ya diloloskan.

Selain itu tindakan aparat keamanan dan otoritas pelayanan Indonesia yang membiarkan kapal Norgas dengan muatan penuh LPG, terombang ambing di perairan international (konon hanya 36 mil laut dari G. Anak Krakatau yang masih aktif) selama 30 hari lebih dengan suhu tinggi siang hari juga merupakan kecerobohan tersendiri. Dari informasi lapangan yang kami dapat, mesin pendingin tanki LPG juga sudah waktunya overhaul. Jadi jika sampai rusak maka proses pendinginan gas akan terganggu. Mengerikan sekali.

Memang KNKT masih bekerja dan diharapkan hasil investigasinya bisa cepat diselesaikan sehingga bisa segera diambil langkah hukum bagi pelanggar aturan keselamatan angkutan penyeberangan (baik pemilik kapal maupun otoritas sertifikasi) sesuai dengan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Termasuk juga apakah KMP Bahuga Jaya diasuransikan?

Dari wawancara dengan beberapa pemilik kapal Indonesia, jarang asuransi Internasional yang mau menanggung kapal dengan sertifikasi yang dikeluarkan oleh BKI. Kalaupun ada, harga preminya sangat sangat tinggi. Atau ada perusahaan asuransi lokal yang menangung ? Perlu investigasi tersendiri.

Sebaiknya Kementrian Perhubungan, ESDM dan aparat keamanan harus segera melakukan antisipasi agar gas LPG yang berada di dalam tanki kapal Norgas Cathinka tidak bocor dan meledak. Ingat LPG tidak menguap ke udara bebas tetapi dia ada di permukaan tanah/air. Jika ada aparat keamanan atau nelayan yang melewati kapal itu dengan lampu tempel atau merokok, resiko meledak sangat mungkin terjadi.

Sebagai penutup, keputusan otoritas yang berwenang atas status kapal Norgas harus cepat dan tepat. Termasuk kalau terbukti bersalah, pemilik kapal Norgas juga harus bertanggung jawab.

oleh Agus Pambagio
sumber http://news.detik.com