Reformulasi Bisnis: Wujud Tantangan Hadapi Pasar ASEAN

Rabu, 24 Oktober 2012 | 10:37


Meningkatkan kinerja dengan strategi reformulasi, Sucofindo maju menghadapi tantangan pasar ASEAN.

Sebagai perusahaan inspeksi pertama dan terbesar di Indonesia, tahun ini Sucofindo memasuki usia 56 tahun. Di tengah pertumbuhan bisnisnya, Sucofindo telah melakukan dua kali perubahan strategi organisasi, yaitu di tahun 2001 dan 2012. Di tahun 2001, berakhirnya penugasan pemerintah dalam bidang pemeriksaan Administrasi Tata Niaga Ekspor (ATE) membuat pertumbuhan bisnis Sucofindo mengalami stagnasi. Program transformasi bisnis pun digulirkan untuk memperbaiki keadaan.





Kurun waktu sepuluh tahun program transformasi bisnis berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan yang positif. Namun, biaya operasional pun meningkat. Jika tidak dilakukan perubahan strategi, kinerja Sucofindo diprediksi akan menurun di tahun 2015. Tak pelak lagi, Sucofindo menggulirkan reformulasi strategi bisnis di tahun 2012.

“Untuk memperkuat strategi bisnis ke depan, kami menerapkan 4 pilar strategi reformulasi Sucofindo”, ujar Direktur Utama PT Sucofindo, Arief Safari. Strategi pertama adalah membangun budaya berkinerja tinggi. “Kita memperkuat sumber daya manusia melalui perbaikan penilaian kinerja. Orang yang berprestasi diberi reward yang lebih baik,” kata Arief. Melalui pilar pertama ini, peningkatan kompetensi dan pengembangan karir serta sistem pengelolaan kinerja diupayakan dengan optimal.

Pilar yang kedua adalah keunggulan operasional. Maksudnya, dengan melakukan restrukturisasi (penataan ulang) model operasi dan organisasi, penguatan sistem keuangan, penguasaan sistem informasi teknologi (IT), dan peningkatan mutu yang dapat mendorong tercapainya efisiensi. Berdasarkan survei pelanggan Sucofindo pada 2010, keunggulan operasional meliputi akurasi, kecepatan pelayanan, dan reputasi internasional. “Itulah yang menjadi salah satu kekuatan operasional kami,” sahut Arief.

Inovasi dan pengetahuan ditetapkan sebagai pilar ketiga. Peningkatan pengetahuan sumber daya manusia dibangun dengan sistem manajemen pengetahuan (knowledge management). Melalui sistem ini, semua karyawan dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman. Pada akhirnya, diharapkan akan timbul ide-ide baru atau inovasi kreatif yang dapat dikembangkan untuk memajukan bisnis perusahaan. Lalu, pilar yang keempat, yaitu pertumbuhan yang menguntungkan dan berkelanjutan. Strategi ini dijalankan dengan meningkatkan portofolio bisnis perusahaan dan pengakuan brand Sucofindo.

Perubahan pun terjadi. Di tahun 2011, Sucofindo mencatat pendapatan sebesar Rp 1,409 trilyun. Tahun 2012, pendapatan Sucofindo ditargetkan mencapai Rp 1,787 trilyun. “Sampai dengan Agustus 2012 telah tercapai 87% dan menembus angka Rp 948,85 miliar,” kata Arief. Ia menegaskan, sampai dengan Agustus, targetnya sebesar Rp 6,66 Milyar. Padahal, per Agustus tahun ini saja Sucofindo sudah membukukan laba Rp 25,2 milyar. Tahun 2013 diproyeksikan pendapatan mencapai Rp2 trilyun. Bahkan, di tahun 2015 pendapatan perusahaan diproyeksikan menembus angka Rp2,8 trilyun.


Kinerja dan Tantangan ke Depan

Seiring dengan berjalannya program reformulasi, terlihat kemajuan yang diraih oleh Sucofindo. Investasi yang dilakukan pun telah membuahkan hasil. Proyek Coal Bed Methane (CBM) Gas Desorption and Analysis mulai beroperasi di awal September 2012. Target dari 11 sumur yang diperoleh di wilayah Sumatera Selatan akan ditingkatkan menjadi 20 sumur. Jumlah pelanggan dan cakupan wilayah kerja proyek CBM: Core Analysis pun sekarang telah merambah ke wilayah Kalimantan Timur. “Laboratorium CBM di Balikpapan dan Palembang, ditambah dengan laboratorium bergerak (mobile laboratory) di Cibitung akan memudahkan pelayanan kepada pelanggan hingga ke pelosok negeri,” tutur Arief.

Tidak hanya itu. Dalam memenuhi kebutuhan industri mineral yang semakin berkembang, Sucofindo terus mengembangkan fasilitas kerjanya. Tahun lalu lembaga pengujian ini membangun laboratorium pemrosesan mineral komersial pertama di ASEAN. Langkah itu diambil guna mendukung upaya peningkatan nilai tambah bahan mineral dalam negeri. "Smelter di kawasan regional kini tidak lagi harus menguji hasil pemoresan bahan mineral ke Australia atau Amerika,  cukup di Indonesia yang menawarkan harga lebih kompetitif", ujar Arief.

Sucofindo juga memiliki laboratorium yang mendapat pengakuan dari lembaga internasional, seperti International Electrotechnical Commission (IEC) dan FOSFA. Pengakuan tersebut merupakan nilai tambah bagi pengguna jasa pengujian dan sertifikasi berupa kemudahan dalam transaksi internasional. Industri elektronika Indonesia tidak perlu lagi melakukan pengujian produk di negara tujuan ekspor asalkan dinyatakan lulus uji kesesuaian standar oleh Sucofindo. Hal itu dikarenakan laboratorium Sucofindo telah diakui dalam CB Scheme, yaitu skema pengakuan sertifikasi uji untuk produk listrik dan elektronika. Jadi, produk yang telah disertifikasi oleh Sucofindo dapat diterima di banyak negara. Begitu pula dengan hasil uji dan analisis berbagai produk dan komoditi lain yang dilakukan Sucofindo telah sejak lama diakui dan diterima para pelaku bisnis internasional.

Berkenaan dengan jasa pemastian dalam pemenuhan standar SNI, Sucofindo yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dapat melayani sertifikasi untuk 140 jenis produk industri. Produk yang telah mendapat sertifikasi akan memiliki daya saing yang lebih baik, baik di pasar domestik maupun internasional. "Kami senang bisa membantu pelaku industri meningkatkan kinerja mereka, dan bangga turut memberi pemastian keamanan produk bagi masyarakat", ujar Arief.

Selaku perusahaan surveyor, yang paling berpengalaman di Indonesia, Sucofindo dipercaya pemerintah untuk melakukan Verifikasi Ekspor Produk Industri Kehutanan (VEPIK), yaitu verifikasi atas ekspor kayu olahan tertentu dan produk rotan sebelum diekspor. Manfaat verifikasi ini mulai terlihat dengan terpenuhinya kebutuhan bahan baku dalam negeri dan meningkatnya penerimaan devisa negara. Tentu saja penugasan ini, selain mendukung kebijakan pemerintah juga menjadi peluang yang mendukung kinerja dan pengembangan jasa Sucofindo ke depan.

Selain kebijakan pemerintah, peluang bisnis dan tantangan ke depan adalah pertumbuhan ekonomi dan perdagangan Indonesia yang cukup tinggi. “Pertumbuhan ekonomi kita sekitar 6,4%, cukup tinggi dibanding negara lain yang hanya 2,0%,” kata Arief. Peluang ini juga dapat dilihat pada ASEAN Economy Community 2015. “Perusahaan inspeksi asing akan banyak yang membuka cabangnya di ASEAN, khususnya di Indonesia. Nah, Sucofindo akan menjadi motor penggeraknya nanti,” imbuh Arief.

Lebih jauh Arief memaparkan, saat ini Sucofindo merupakan market leader di bidang jasa pengujian dan sertifikasi. Market share Sucofindo adalah 21,0 % dari 575 perusahaan yang ada. “Jadi Sucofindo yang terbesar di Indonesia,” ujarnya. Saat ini, Sucofindo memiliki 33 cabang, 52 laboratorium, dan 90 titik pelayanan di seluruh Indonesia. “Sucofindo memiliki fasilitas dan  jaringan yang luas. Itulah kekuatan dan peluang buat kita,” jelas Arief.

Ternyata tidak hanya jaringan cabang, laboratorium dan unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia, Sucofindo juga memiliki berbagai jenis jasa, mulai dari jasa komersial sampai penugasan pemerintahan. Total ada 152 jenis jasa yang ditawarkan kepada 108 pelanggan. Jasa tersebut dapat dikemas dalam bentuk bundling atau paket jasa. Dengan bundling, kebutuhan pelanggan dari hulu ke hilir dapat dilakukan oleh Sucofindo. “Pelanggan tidak perlu repot-repot ke banyak penyedia jasa. Kami dapat menyediakan semuanya sesuai permintaan pelanggan,” kata Arief menegaskan. Jaringan dan banyaknya jenis jasa yang ditawarkan ini akan memberikan layanan prima kepada pelanggan.

Sebagai perusahaan inspeksi dan pengujian milik bangsa yang memiliki diversifikasi jasa dan jaringan yang luas, Sucofindo mampu memperkuat ekonomi perdagangan nasional dan memainkan peranan penting di tingkat regional. [oth]